YunnyTouresiaYurdhiansyah

Blog EntryKerinduan yang tak terbendungJun 18, '08 10:32 PM
for everyone

Mendung hitam tampak menggelayut di hamparan langit Sengata. Angin yang berhembus kencang, cahaya kilatan petir beberapa kali membelah langit dengan warna kelabu yang semakin gelap menambah keyakinan bahwa sebentar lagi hujan akan segera mengguyur seantero kota. Kurang lima menit dari jam lima, saya sudah standby di posisi ‘bersiap untuk pergi’. Meja kerjapun sudah saya rapikan. Ya, kali ini memang harus bergegas, karena setiap hari Selasa sore, saya akan bertemu dengan sahabat-sahabat tercinta di sebuah taklim pekanan. 

 

Musik tanda pulang yang keluar dari mesin check clock, sayup-sayup terdengar. Seolah mengiringi langkah kaki saya yang bergegas keluar ruangan. Dalam hati berharap, semoga langit masih mampu menahan bebannya hingga saya sampai di tujuan nanti. Apalagi alamat rumah sahabat yang akan saya tuju kali ini masih kabur, karena kelompok kami masih tergolong baru. Sebagian ada yang sudah saya ketahui rumahnya, namun ada sebagian juga yang belum.

 

Baru beberapa menit tancap gas, butiran air besar-besar deras jatuh tak terbendung. Seketika kabut menyerbu kaca mobil, memaksa dua batang wiper  untuk berlenggak lenggok lebih extra demi membantu mata saya menembus derasnya hujan yang mengguyur. Jalanan yang saya lewati perlahan mulai lenggang. Satu per satu motor dan pejalan kaki menepi, menghindari guyuran air yang semakin deras mengalir. Alhamdulillah, beberapa menit kemudian, saya tiba di Gang Family, di mana sahabat baru saya, mba Lamsiah itu tinggal.

“Masuk gang Family IV, lurus ada jembatan lalu belok kanan, rumahnya tak jauh dari situ”.

Begitulah instruksi yang saya dapatkan pekan kemarin. Perlahan namun pasti, saya mengikuti arahan tersebut. Masuk lurus hingga mentok lalu belok ke kanan, setelah melalui jembatan, lalu belok lagi ke kanan. Sebuah rumah yang ada beberapa motor parkir di halamannya, serta tumpukan sandal juga terlihat di depan pintu masuk. Pastilah di sini tempatnya, pikir saya. Saya langsung turun menerjang deras hujan yang terus mengguyur. Seorang ibu dengan baju seksi dan rambut pendek muncul dari balik pintu, menyambut salam saya. Tentu saja ia bukan sosok yang saya cari.

“ Mba Lamsiah yang mana ya? Saya baru dengar ada nama itu di lingkungan sini”, ujar si ibu. Ah, jawaban yang cukup merontokkan hati saya. Saya bergegas kembali ke mobil setelah mengucapkan terima kasih kepada ibu itu.

 

Beberapa menit saya hanya terdiam dalam mobil. Saya raih hp, mencoba mengontak untuk menanyakan kebenaran alamatnya. Namun, apa daya, walaupun pulsa masih tersisa, sinyal di genggaman justru tidak bisa membantu. Yang terdengar hanya nada tulalit. Sinyal layanan telepon yang mempunyai slogan ‘bukan telepon biasa’ yang saya miliki ini, memang kerapkali loyo di tengah cuaca buruk.

 

Lelah sudah mendengar bunyi tulalit di hp. Saya putuskan untuk kembali bergerak perlahan, mata saya segera menyapu sekeliling, berharap ada seseorang yang lewat di jalan yang sudah mulai becek (karena jalan di gang tersebut memang hanya berhias batu merah, tanpa aspal), ataupun sekedar berdiri di teras rumah mereka. Sepi! Mungkin mereka lebih memilih berkumpul bersama keluarganya di dalam rumah yang hangat, sambil minum teh ditemani sepiring cemilan. Memang pilihan yang tepat untuk suasana dingin seperti sekarang, saya menerawang. Dengan keadaan basah kuyup dan kedinginan, terbersit juga rasa ingin menyerah dalam hati.

 

Tiba-tiba saya teringat sahabat saya yang lain, Aminah namanya. Ia tinggal di desa Sangkimah, tiga belas kilometer dari Sengata. Kondisi jalan tanah yang berbatu merah, lengkap dengan naik turun gunung yang lumayan curam, adalah rute yang harus ditempuhnya dengan bersepeda motor setiap pekan, demi menghadiri taklim kami. Bila panas, ia akan datang dengan penuh debu menempel di jilbabnya, dan bila hujan, ia juga kerapkali basah kuyup dan ujung bajunya kotor karena jalan tanah yang dilewatinya menjadi sangat becek.

 

Astaghfirullah…, saya jadi malu sendiri. Apa yang saya alami, sungguh tidak ada apa-apa dibandingkan dengan perjuangan Aminah. Waktu terus bergulir, menyadarkan saya untuk bersegera melanjutkan pencarian.

 

Saya bersiap untuk berputar kembali, menyisir rute yang tadi saya lalui. Alhamdulillah, akhirnya saya bertemu dengan seorang ibu yang kebetulan berdiri di depan teras rumahnya. Hujan masih deras. Saya kembali kuyup karena harus keluar dan menyambanginya untuk kembali bertanya. Alhamdulillah, beliau mengetahui dimana rumah mba Lamsiah.  Ternyata rumahnya di gang Family IV, sebelum jembatan, di sebelah kanan. Bukan di gang Family IV, lurus ada jembatan lalu belok kanan seperti yang saya tangkap sebelumnya. Beliau juga memberitahu, bila di lingkungan gang tersebut, para ibu lebih terkenal dengan embel-embel nama anaknya. Misalnya ‘mama Alif’, ‘mama Dina’ dan sebagainya. Nama mereka sendiri justru tidak terkenal. Ah, ternyata …

 

Setelah dua kali berputar-putar di dalam gang tersebut. Saya berhasil menemukan alamat yang saya cari. Sahabat-sahabat saya, sudah duduk melingkar di ruang tengah milik mba Lamsiah. Salam hangat, jabat erat dan senyum manis menyambut kehadiran saya. Sedikit lelah berkeliling dan rasa dingin yang melingkupi saya menguap seketika.  Subhanallah! Allahu Akbar!

 

Waktu sudah menembus batas sore. Langit mulai gelap dan hujan masih deras mengguyur. Suasana diluar nampak beku. Namun tidak begitu dengan kami. Taklim kami tetap berjalan lancar, diskusinya sangat hidup dan mencerahkan. Secuil waktu yang tersisa, berlalu dengan nikmatnya. Alhamdulillah. Begitulah ukhuwah yang terbangun karena kecintaan kepadaNya. Bertemu sahabat dan bersama – sama menggapai ilmuNya, adalah kerinduan yang tak pernah bisa terbendung. Karena aromanya selalu dapat menebarkan kerinduan dalam setiap hati kami, untuk menempuh jalan demi sebuah pertemuan. Insya Allah!

 

"Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada’, tetapi para Nabi dan Syuhada’ iri pada mereka. "Ketika ditanya oleh para sahabat, Rasulullah saw menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah" ( Hadist riwayat Tirmidzi )

 

 

* Untuk semua sahabat di taklim ‘Khodijah’, semoga jalinan ukhuwah diantara kita semakin bertambah erat. Amiin…

 


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.