Yunny's posts with tag: article
Matahari menghamparkan sinar lembutnya sore itu. Saya, anak-anak dan khadimat menikmatinya sambil menunggu mobil kami yang sedang di cuci. Si Sulung Alif bermain skuter bersama kak Amah di halaman sekitar tempat pencucian mobil yang terlihat semakin ramai. Beberapa motor dan mobil yang lain berjejer menunggu antrian. Para pegawainya tampak kewalahan dengan pekerjaannya, namun, begitu menikmatinya. Sesekali mereka bercengkrama sambil tertawa-tawa. Indah! Alif minta di belikan minum karena sudah kelelahan dengan skuternya. Azka adiknya pun mulai bosan duduk di pangkuan saya. Kami lalu berjalan menuju sebuah warung kecil yang terletak tepat di samping tempat pencucian mobil. Beberapa meter menuju warung, nampak seorang pemuda sedang asyik berbaring di atas jalan raya. Nampaknya kurang waras. Pakaiannya dan wajahnya penuh dengan debu. Sesekali ia bergerak seperti berenang gaya katak di atas jalan. Senyum dan tawanya pecah setiap debu berterbangan menyapa wajahnya. Saya refleks langsung menyuruh anak-anak dan khadimat untuk beringsut mundur, apalagi ketika pemuda tersebut menatap ke arah kami. Seketika ia melambai-lambaikan tangannya seperti memanggil untuk mendekatinya. Ketika melihat kami berhenti melangkah, ia tertawa lalu melanjutkan aktivitasnya berenang-renang di atas jalan tersebut. Kami bersegera menuju ke warung. Seorang ibu setengah baya menyambut kami dengan ramah. Setelah menyediakan minum dan kue yang kami pesan, beliau duduk di kursi kayu di teras warung. Sekilas saya perhatikan, matanya tak lepas dari pemuda yang sedang berenang tadi. Sesekali ia tersenyum sendiri. Ada sorot penuh cinta di matanya yang sayu. “apa pemuda itu anaknya, ya?”, bisik saya dalam hati. Tapi ah, entahlah, saya hanya menduga … Tiba-tiba pemuda itu muncul, berdiri tepat di depan pintu warung. Matanya nanar menatap setiap kami, sambil meracau tak jelas. Saya langsung merengkuh anak-anak dan berkata kepada khadimat agar hati-hati. Takut bila ada hal yang tidak di inginkan terjadi. Cepat si ibu menghalau pemuda itu ke samping warung, lalu menggandengnya masuk lewat pintu samping. Tangannya sibuk mengibas-ngibas debu yang menempel di baju si pemuda dengan handuk. “Minum dulu, le”, ujarnya sambil menyodorkan gelas berisi minuman dingin. Tak berapa lama, si pemuda kembali berlari ke depan warung dan ‘berenang’ lagi disana. Nampak si ibu melepasnya dengan senyum. Sembari berlalu menuju kursi kayunya di depan warung, ibu itu berkata pelan; “ Maaf ya, itu Joko anak saya. Ia memang kurang waras, senangnya ya begitu. Ndak usah takut, dia ndak suka mengganggu kok”. Saya menjawabnya dengan anggukan kepala. Ternyata benar dugaan saya, pemuda itu adalah anaknya. Saya jadi tidak enak hati. Mungkin beliau melihat ekspresi ketakutan saya ketika ada anaknya tadi. “Maaf bu, saya ….” “ Oh, ndak apa-apa. Saya maklum kok. Memang kalo orang tidak tau, takut sama dia”. Ujar beliau langsung memotong kalimat saya. Senyum kecil yang menyungging di sudut bibirnya membuat rasa tidak enak dalam hati sedikit menguap. Tiba-tiba terdengar si Joko berteriak-teriak nyaring. Beberapa anak kecil berdiri di depannya sambil mengolok-olok. “Orang giillaaa…, orang giiilllaaaaa”. Mereka terus mengusik keasyikan si Joko yang sedang bermain debu. Ibu itu segera angkat kaki mendatangi anaknya. “Jangan di olok yo, le. Kasian kan, masnya sedang asyik mainan. Kalian main yang lain aja ya?” ujar beliau pelan kepada anak-anak yang berdiri. Sebagian lagi menurut dan menjauh, namun ada pula yang tetap bertahan dan terus mengejek. “Ih, sudah besar tapi main kotor. Orang gilaaaa….” Teriaknya terus mengolok. Si Joko yang tidak terima dibilang orang gila, seketika mengambil batu dan hendak melempar anak itu. Ibu itu dengan sigap meraih batu di genggaman anaknya sambil berkata “Jangan yo le, kasian adeknya. Dia gak tau kalo mas lagi main yo? Lagi main opo tho mas? Wih, lagi main berenangan ? Ayo…, ayo…main lagi….” Si anak yang sempat cemberut, seketika tersenyum kembali. Melanjutkan permainannya, berenang gaya katak sambil tertawa-tawa. Beliau baru beranjak pergi dari samping anaknya, setelah memastikan anak-anak kecil yang tadi mengganggu sudah berlari menjauh. Subhanallah! Seketika hati ini gerimis dibuatnya. Sungguh saya hanya mampu tertegun tanpa kata melihat kejadian tersebut. Meresapi satu demi satu kalimat lembut yang penuh dengan kesabaran dari bibir si ibu. Mencoba mengandaikan diri ini yang menjadi beliau, apakah saya masih bisa bersabar? Apakah saya masih bisa lembut? Banyak anak cacat mental dan fisik yang sengaja di jauhkan oleh orang tua mereka. Sengaja dibuang, atau tidak diakui keberadaannya dengan alasan malu dan sebagainya. Tapi itu tidak terjadi dengan Joko, yang ada di depan saya. Ia termasuk anak yang beruntung. Ia sungguh beruntung karena memiliki ibu yang begitu mencintainya. Tetap sabar dan setia menemani tingkahnya. Seseorang datang dan memberitahu bahwa mobil sudah selesai di cuci. Membuat kami bergegas meninggalkan warung. Uluran tangan saya pada si ibu ketika membayar tadi, dibalas beliau dengan sungguh erat. “ Kapan-kapan mampir lagi, ya”. Ujarnya sambil tersenyum. Saya membalas senyumnya mengiyakan. Dari balik kaca mobil, saya melihat si ibu kembali duduk mematung di kursi kayunya sambil memandang anaknya yang nampak semakin asyik menikmati debu. Berguling-guling sambil tertawa riang. Ah, ibu, apa kiranya yang sedang berkecamuk dalam pikirmu? Masihkan ada terselip asa dan harap atas buah cinta yang sedang kau pandangi ? Senyum yang mengembang di sudut bibirnya seolah menjawab tanya saya. Di ufuk barat, matahari sudah tergelincir, menyisakan bias warna kemerahan pada tumpukan awan diatasnya. * Catatan kecil untuk seorang ibu yang telah mengajari saya satu ayat tentang cinta. “Terima kasih, bu. Semoga Allah SWT berkenan mengembalikan sinarNya untuk permata hatimu. Amiin”.
Mendung hitam tampak menggelayut di hamparan langit Sengata. Angin yang berhembus kencang, cahaya kilatan petir beberapa kali membelah langit dengan warna kelabu yang semakin gelap menambah keyakinan bahwa sebentar lagi hujan akan segera mengguyur seantero kota. Kurang lima menit dari jam lima, saya sudah standby di posisi ‘bersiap untuk pergi’. Meja kerjapun sudah saya rapikan. Ya, kali ini memang harus bergegas, karena setiap hari Selasa sore, saya akan bertemu dengan sahabat-sahabat tercinta di sebuah taklim pekanan. Musik tanda pulang yang keluar dari mesin check clock, sayup-sayup terdengar. Seolah mengiringi langkah kaki saya yang bergegas keluar ruangan. Dalam hati berharap, semoga langit masih mampu menahan bebannya hingga saya sampai di tujuan nanti. Apalagi alamat rumah sahabat yang akan saya tuju kali ini masih kabur, karena kelompok kami masih tergolong baru. Sebagian ada yang sudah saya ketahui rumahnya, namun ada sebagian juga yang belum. Baru beberapa menit tancap gas, butiran air besar-besar deras jatuh tak terbendung. Seketika kabut menyerbu kaca mobil, memaksa dua batang wiper untuk berlenggak lenggok lebih extra demi membantu mata saya menembus derasnya hujan yang mengguyur. Jalanan yang saya lewati perlahan mulai lenggang. Satu per satu motor dan pejalan kaki menepi, menghindari guyuran air yang semakin deras mengalir. Alhamdulillah, beberapa menit kemudian, saya tiba di Gang Family, di mana sahabat baru saya, mba Lamsiah itu tinggal. “Masuk gang Family IV, lurus ada jembatan lalu belok kanan, rumahnya tak jauh dari situ”. Begitulah instruksi yang saya dapatkan pekan kemarin. Perlahan namun pasti, saya mengikuti arahan tersebut. Masuk lurus hingga mentok lalu belok ke kanan, setelah melalui jembatan, lalu belok lagi ke kanan. Sebuah rumah yang ada beberapa motor parkir di halamannya, serta tumpukan sandal juga terlihat di depan pintu masuk. Pastilah di sini tempatnya, pikir saya. Saya langsung turun menerjang deras hujan yang terus mengguyur. Seorang ibu dengan baju seksi dan rambut pendek muncul dari balik pintu, menyambut salam saya. Tentu saja ia bukan sosok yang saya cari. “ Mba Lamsiah yang mana ya? Saya baru dengar ada nama itu di lingkungan sini”, ujar si ibu. Ah, jawaban yang cukup merontokkan hati saya. Saya bergegas kembali ke mobil setelah mengucapkan terima kasih kepada ibu itu. Beberapa menit saya hanya terdiam dalam mobil. Saya raih hp, mencoba mengontak untuk menanyakan kebenaran alamatnya. Namun, apa daya, walaupun pulsa masih tersisa, sinyal di genggaman justru tidak bisa membantu. Yang terdengar hanya nada tulalit. Sinyal layanan telepon yang mempunyai slogan ‘bukan telepon biasa’ yang saya miliki ini, memang kerapkali loyo di tengah cuaca buruk. Lelah sudah mendengar bunyi tulalit di hp. Saya putuskan untuk kembali bergerak perlahan, mata saya segera menyapu sekeliling, berharap ada seseorang yang lewat di jalan yang sudah mulai becek (karena jalan di gang tersebut memang hanya berhias batu merah, tanpa aspal), ataupun sekedar berdiri di teras rumah mereka. Sepi! Mungkin mereka lebih memilih berkumpul bersama keluarganya di dalam rumah yang hangat, sambil minum teh ditemani sepiring cemilan. Memang pilihan yang tepat untuk suasana dingin seperti sekarang, saya menerawang. Dengan keadaan basah kuyup dan kedinginan, terbersit juga rasa ingin menyerah dalam hati. Tiba-tiba saya teringat sahabat saya yang lain, Aminah namanya. Ia tinggal di desa Sangkimah, tiga belas kilometer dari Sengata. Kondisi jalan tanah yang berbatu merah, lengkap dengan naik turun gunung yang lumayan curam, adalah rute yang harus ditempuhnya dengan bersepeda motor setiap pekan, demi menghadiri taklim kami. Bila panas, ia akan datang dengan penuh debu menempel di jilbabnya, dan bila hujan, ia juga kerapkali basah kuyup dan ujung bajunya kotor karena jalan tanah yang dilewatinya menjadi sangat becek. Astaghfirullah…, saya jadi malu sendiri. Apa yang saya alami, sungguh tidak ada apa-apa dibandingkan dengan perjuangan Aminah. Waktu terus bergulir, menyadarkan saya untuk bersegera melanjutkan pencarian. Saya bersiap untuk berputar kembali, menyisir rute yang tadi saya lalui. Alhamdulillah, akhirnya saya bertemu dengan seorang ibu yang kebetulan berdiri di depan teras rumahnya. Hujan masih deras. Saya kembali kuyup karena harus keluar dan menyambanginya untuk kembali bertanya. Alhamdulillah, beliau mengetahui dimana rumah mba Lamsiah. Ternyata rumahnya di gang Family IV, sebelum jembatan, di sebelah kanan. Bukan di gang Family IV, lurus ada jembatan lalu belok kanan seperti yang saya tangkap sebelumnya. Beliau juga memberitahu, bila di lingkungan gang tersebut, para ibu lebih terkenal dengan embel-embel nama anaknya. Misalnya ‘mama Alif’, ‘mama Dina’ dan sebagainya. Nama mereka sendiri justru tidak terkenal. Ah, ternyata … Setelah dua kali berputar-putar di dalam gang tersebut. Saya berhasil menemukan alamat yang saya cari. Sahabat-sahabat saya, sudah duduk melingkar di ruang tengah milik mba Lamsiah. Salam hangat, jabat erat dan senyum manis menyambut kehadiran saya. Sedikit lelah berkeliling dan rasa dingin yang melingkupi saya menguap seketika. Subhanallah! Allahu Akbar! Waktu sudah menembus batas sore. Langit mulai gelap dan hujan masih deras mengguyur. Suasana diluar nampak beku. Namun tidak begitu dengan kami. Taklim kami tetap berjalan lancar, diskusinya sangat hidup dan mencerahkan. Secuil waktu yang tersisa, berlalu dengan nikmatnya. Alhamdulillah. Begitulah ukhuwah yang terbangun karena kecintaan kepadaNya. Bertemu sahabat dan bersama – sama menggapai ilmuNya, adalah kerinduan yang tak pernah bisa terbendung. Karena aromanya selalu dapat menebarkan kerinduan dalam setiap hati kami, untuk menempuh jalan demi sebuah pertemuan. Insya Allah! "Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada’, tetapi para Nabi dan Syuhada’ iri pada mereka. "Ketika ditanya oleh para sahabat, Rasulullah saw menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah" ( Hadist riwayat Tirmidzi ) * Untuk semua sahabat di taklim ‘Khodijah’, semoga jalinan ukhuwah diantara kita semakin bertambah erat. Amiin…
Sahabat, kita semua tahu, tindakan zionis Israel atas saudara kita di Palestin sudah sedemikian kejinya. Setiap hari, mereka tak berhenti penggempur, menyerang, menyiksa dan merampas paksa nyawa tak berdosa tanpa memandang status dan usia. Tak perduli siapa sasarannya. Apakah ia lelaki, perempuan, remaja dan balita. Bahkan para bayipun tak luput dari sasaran senjata dan rudal yang mereka arahkan dengan membabi buta. Saudara – saudara kita di sana, hidup dalam kesengsaraan, di neraka buatan zionis Israel Laknatulloh! Sahabat, sekelumit kenyataan diatas, hingga detik ini masih terjadi. Sebagai saudara seiman, telah bercampur aduk rasa di dalam hati. Pedih dan amarah, bergulung jadi satu. Dengan hanya mengingat penderitaan mereka, kerapkali membuat airmata kita tumpah ruah karenanya. Apalagi sebagai rakyat yang hidup di negara yang serba susah saat ini. Yang pemerintahnya masih tunduk akan aturan luar negeri, yang kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya malah membuat rakyat semakin menderita. Sudah pasti, tak banyak bantuan material yang dapat kita berikan untuk saudara kita di Palestin. Namun saya yakin, setiap kita selalu mampu menyelipkan mereka di dalam setiap baris doa kita padaNya. Kita sama-sama yakin, darah dan nyawa yang mereka korbankan akan mempunyai nilai sendiri di mataNya. Sahabat, dibalik semua keterbatasan kita untuk menolong saudara kita di Palestin, sesungguhnya ada langkah yang lebih efektif yang dapat kita semua lakukan. Yah, seperti yang sudah sering kita baca di berbagai media, yaitu dengan cara memboikot rame-rame semua produk – produk penyokong dan pembela gerakan zionis. Karena, lihatlah, betapa banyak dari kita yang dari ujung kepala hingga kaki, masih bermandikan segala macam produk Yahudi. Dari sabun, shampoo, hingga parfum. Dari baju, celana hingga sepatu. Termasuk juga minuman dan makanan yang mengalir ke dalam perut lapar kita. Tanyakan diri masing-masing, telah berapa puluh kali kita mendatangi gerai junk food Amerika yang katanya telah menjadi kegemaran orang Indonesia? Pizza, ayam goreng, hamburger, donat, softdrink dan yang lainnya? Sahabat, kekejaman zionis Israel laknatulloh atas saudara kita di Palestina, bukan rekayasa, dan sungguh begitulah kenyataannya. Namun, realita tentang banyaknya dari kita yang hingga saat ini masih menjadi pengguna setia produk Yahudi juga bukan hanya cerita. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam masyarakat kita sudah tertanam rasa bangga menggunakan produk luar ketimbang produk sendiri. Padahal, tahukah kita, sahabat. Bahwa dengan tetap menggunakan produk Yahudi, apakah artinya? Artinya, kita, entah sadar ataupun tidak, telah menjadi pendukung mereka. Karena dari uang yang kita belanjakan itu, peluru, rudal, tank, senjata, bom, mereka beli . Dan apalagi artinya? Artinya kita sendirilah yang membunuh saudara-saudara kita. Tentu saja dengan lewat tangan para zionis. Bukankah begitu? Naudzubillahi min dzaalik! Sahabat. Bagaimana mungkin kepala kita dapat berpikir dengan jernih, bagaimana lisan kita dapat lantang berteriak, bagaimana langkah kita akan kuat dalam menapak, demi membela saudara kita yang terjajah, bila kita sendiri, setiap hari menyalurkan banyak uang membeli produk yang secara nyata berperan membesarkan gerakan zionis laknatulloh? Lalu masihkan doa kita untuk saudara di Palestin menjadi bermakna, bila kita hanya menjadi bagian dari kelompok NATO, no action talk only ? Silahkan jawab sendiri. Sadarilah, bahwa para zionis laknatulloh mungkin bukan hanya sekedar tersenyum melihat kelakuan kita. Lebih dari itu, mereka pasti sudah tertawa lebar bahkan terbahak-bahak. Mungkin hingga kifa di atas kepala mereka ikut bergoyang-goyang karenanya. Jadi, jangan tunda lagi! Mari segera bergerak, sahabat! Jangan biarkan para Yahudi laknatulloh menertawakan kita. Sebisanya, kita berusaha keluar dari jaring produk Israel dan para pendukungnya! Semoga Allah SWT mencatatnya sebagai suatu kebaikan untuk kita semua. Insya Alloh! Pesan: Untuk semua sahabatku; segera klik www.inminds.Co.Uk bagi yang belum mengetahui produk para pendukung zionis atau klik www.judaicawebstore untuk melihat produk-produk Israel. Ayo, boikot semuanya!!
Nama lengkapnya Salamah. Perawakannya kecil- kurus, sesuai dengan umurnya yang baru beranjak menuju angka enambelas. Datang dari desa Sungai Batung di Pedalaman Kalimantan Selatan menuju Sengata demi sebuah pekerjaan yang sejak lama di inginkannya. Harapannya hanya satu, ingin membantu meringankan beban orang tuanya di kampung. “Kak Amah” adalah panggilan sayang kami untuknya. Ia adalah satu dari dua orang ‘deputy’ saya, yang bertanggung jawab penuh menemani dan mengawasi anak-anak selama saya di tempat kerja. Alif, anak sulung saya adalah ‘pekerjaan’ utamanya, selain pekerjaan rumah yang lainnya. Bulan ini genap setahun sudah ia menjadi bagian dari keluarga kami. Dedikasinya untuk Alif, sungguh tidak kami ragukan. Pernah suatu kali, Alif terjatuh dari jembatan di depan rumah, yang tepat dibawahnya ada kolam. Melihat itu, tanpa pikir panjang kak Amah langsung menceburkan diri. “Saya takut Alif kenapa-napa. Lupa kalo kolamnya dangkal” ujarnya. Rasa khawatir yang sangat membayang di wajahnya. Sedangkan Alif yang terjatuh malah ketawa-ketiwi, kegirangan bisa main air. Di sela waktu, saya paling suka mendengarkan ceritanya. Bagaimana kehidupan dan kebiasaan orang-orang dikampungnya, tentang keluarganya, sampai tentang pekerjaan menurih (menyadap pohon karet) yang sejak kecil biasa ia lakukan, adalah kebanyakan dari episode yang dibaginya pada saya. Kadang membuat tawa, namun beberapa kali mengundang kabut menyelimuti mata karena rasa haru yang tercipta. Di sela pekerjaannya yang segunung, kak Amah kerap mampu menahan lapar-dahaga karena puasa sunnah yang dilakukannya. “Insya Alloh kuat, sudah biasa, sih…” begitu ujarnya menjawab tanya saya apakah ia akan ‘kuat’ dengan kondisi pekerjaannya. Tapi memang benar, tidak pernah saya melihat ‘penurunan kualitas kerja’, atas puasanya itu. Subhanalloh….,salut untuk kak Amah atas kebiasaannya tersebut! Insya Alloh menjadi cambuk bagi kami yang lain untuk lebih membiasakan diri melakukan sunnahNya. Bagi kami sekeluarga, kak Amah bukan sekedar khadimat. Ia adalah teman, sahabat, keluarga, yang kehadirannya selalu kami harapkan. Yang dari jemarinya membuat beban menjadi ringan. Semoga Alloh SWT memberikan banyak pahala atas jasa baiknya untuk segala bantuan yang telah dilakukannya untuk kami. Amiin. * Untuk kak Amah, terima kasih banyak atas segala keikhlasannya untuk kami yaa…
Awal mulai menulis untuk di publikasikan, saya selalu dihantui kata ‘tidak bisa’. Kebingunan harus mulai dari mana, ide yang harus di tuangkan, pemilihan kata-kata di dalam kalimat hingga perasaan tidak pe-de karena ‘takut’ hasilnya akan jelek atau di tolak adalah ‘pengganggu terbesar’ yang saya rasakan. Anehnya, ketakutan itu muncul ketika saya belum mencoba menorehkan satupun huruf kedalamnya. Kali lain saya di serahi amanah untuk sebuah pekerjaan. Kembali ‘tidak bisa’ membayangi saya. Ketakutan tidak mampu melaksanakannya dengan baik di tambah ketidaktahuan saya tentang kondisi orang-orang yang saja ajak bekerja sama nanti, bagai kompak mendukung diri saya untuk menolak amanah tersebut. Menyerah sebelum bertarung? Ya…something like that! Begitulah gambaran diri saya dahulu. Saya bahkan merasa aman ketika tidak melakukan sesuatu atau ketika terbebas dari sebuah pekerjaan. Ternyata, apa yang saya dapatkan? Di depan mata, satu per satu teman saya bahkan sudah menerbitkan kumpulan tulisannya ke dalam beberapa buku. Dan teman yang lain sukses menjalankan pekerjaan atas amanah yang dulu pernah saya tolak. Padahal saya tahu, semua mereka juga memulainya dari nol. Suatu kesempatan mengantarkan saya bertemu dengan seseorang yang dari sikapnya menyadarkan saya. Seorang teman baru di kantor. Ia acapkali mengucapkan ‘kesulitan-kesulitan’ padahal sedikit pekerjaanpun belum ada yang disentuhnya. Takut salah, takut hasilnya gak balance atau takut dimarahi boss adalah kata-kata andalannya. Padahal bagi orang lain yang mengerjakannya, ternyata mudah saja. Tidak seperti yang ia koar-koarkan sebelumnya. Semakin mengenalnya, akhirnya kami semua tahu, bahwa dari sikapnya tersebut tersimpan maksud. Ia hanya ingin ‘aman’ dari tambahan pekerjaan yang diberikan padanya. Astaghfirullah… Melihat teman saya itu, sungguh membuat saya bercermin. Pertanyaanpun muncul menggedor-gedor hati saya. Apakah saya akan menjadi seperti teman saya itu? Terkungkung dalam ‘ketidak berdayaan’ yang sebenarnya saya ciptakan sendiri? Bukankah kita adalah cermin dari sebagian lainnya? Lalu bayangan apakah yang saya inginkan untuk muncul? kebaikan ataukah keburukan? Kebiasaan ‘mempersulit diri’ seperti yang saya atau teman saya lakukan, tentu saja bukanlah pantulan yang baik dan patut untuk di tiru. Karena dari sikap seperti itu, akan membunuh segala rasa optimis dalam diri. Akibatnya bisa ditebak. Yang muncul adalah sosok yang ‘meredupkan’ bukan yang ‘mencerahkan’. Padahal Alloh SWT sungguh mencintai muslim yang dapat menginspirasi muslim lainnya dalam hal kebaikan. Bahkan akan membuahkan rantai pahala yang akan diterima seseorang apabila dalam sikapnya mampu membuat orang lain melangkah menuju jalan tersebut. Subhanalloh! Kini, sungguh tak ada alasan lagi bagi saya untuk menghindari lubang kesempatan yang terbentang di depan mata. Saya harus siap mengusir segala bentuk hantu ‘tidak bisa’ dan ‘takut’ dengan rukiyah optimisme demi memperbaiki diri. Bersiap menjadi cermin kebaikan? Insya Alloh!
 Kebaya dan emansipasi? Wuih…Kartini banget deh! Seperti itulah kesan yang dulu, terbentuk di kepala saya ketika masih duduk di bangku sekolah. Setiap tanggal 21 April, biasanya para murid (yang perempuan) diharuskan berpakaian ‘ala Kartini’, termasuk juga para ibu gurunya. Sekolah juga sengaja di liburkan dari aktivitas belajar, karena akan banyak lomba yang akan digelar. Lomba kebaya mirip Kartini, lomba pidato, juga lomba memasak nasi goreng untuk para bapak guru, dan sebagainya. Para perempuan di kelas saya juga sengaja ‘dibebaskan’ dari tugas ‘membersihkan kelas’ selama seminggu demi memperingati hari Kartini. Dampak dari emansipasi wanita? Ya..begitulah. Yang pasti, perayaan hari Kartini tersebut, berimbas pada orang tua, karena mereka harus mengeluarkan uang extra demi dandanan anaknya. Membayar sewa baju kebaya dan make up di salon. Jujur saja, dulu, saya sangat menyukai ritual hari Kartini. Ramai – ramai ke salon dengan teman-teman satu genk dan menikmati saat menjadi ‘wanita Indonesia sejati’ dengan berkebaya. Seru! *** Selain tentang Kartini yang di lahirkan di Jepara, wanita ningrat yang pintar dan banyak bergaul dengan orang Belanda, juga pelopor emansipasi wanita Indonesia. Rasanya tak lebih dalam saya mengenal beliau. Alhamdulillah, sejalan bertambahnya garam pengetahuan saya, mengantar pada kesempatan untuk berkenalan lebih dekat padanya. Buku “Habis gelap terbitlah terang” merupakan kumpulan surat-surat beliau untuk teman-temannya di Belanda, mengungkap cerita tentang siapa, apa dan bagaimana perjuangan Kartini sesungguhnya. Pada awalnya ternyata Kartini memang seorang ‘pemberontak’. Beliau terus berteriak meminta persamaan hak antara Laki-laki dan perempuan, terutama dalam hal pelayanan dan penyelenggaraan pendidikan. Kartini juga sangat mengagungkan kehidupan liberal Eropa. Namun, di suatu kesempatan, hidayah Alloh datang kepada beliau lewat seorang Kyai, setitik pengetahuan tentang Islam berhasil di reguknya. Membuat semua kekagumannya tentang barat sirna tak berbekas. Kartini bahkan berbalik mengkritik peradapan Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tak layak disebut sebagai sebuah peradapan. Seperti surat yang beliau kirimkan kepada Ny. Aendanon, tanggal 27 Oktober 1902, yang isinya: “ Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkanlah kami, tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahkan di balik hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal yang sama sekali tak patut disebut sebagai peradapan? Aneh memang, kalau ternyata para wanita Indonesia sekarang, justru menjadikan barat sebagai kiblat. Model pakaian, gaya hidup, dan pemikiran. Apalagi di tunjang dengan kebiasaan masyarakat kita, yang acapkali memandang lebih kepada orang-orang yang berbau luar. “Cool man, keren abis deh! Udah cantik, bahasanya cas-cis-cus lagi!..” begitulah komentar yang muncul ketika kita melihat seseorang dengan wajah yang ke ‘bule-bulean’ dan bila berbicara bahasa yang digunakan bercampur bahasa asing. Kemudian dalam suratnya kepada Prof. Anton dan Nyonya, tanggal 4 Oktober 1902, Kartini juga menuliskan: “ Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam sendiri kedalam tangannya: menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. Bukankah artinya, Kartini sendiri telah mementahkan isu emansipasi yang di usung para pejuang gender dengan pemahamannya di atas? Masihkan kita menyebut beliau sebagai pelopor emansipasi wanita menuju ‘kebebasan’ seperti yang banyak di gembar-gemborkan oleh kaum feminisme? Menjadi ibu, mengurus keluarga dan anak dianggap sebagai tindakan ‘penindasan’? Subhanalloh! Kartini, dengan segala pemikirannya tentang kaum wanita, bangsa dan agamanya, ternyata sepanjang hidupnya hanya sempat mengetahui Al Qur’an sepanjang surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim saja, karena keterbatasannya. Lalu bagaimana dengan saya, anda, kita, wanita muslimah yang sekarang dapat dengan mudah menemukan, membaca, dan mempelajari Al Qur’an? Berkebaya dan menggelar acara 'Kartinian' memang tidak ada salahnya, sepanjang kita mengerti akan makna dan tujuan yang terkandung di dalamnya. Semoga kita dapat menggapai lebih banyak cahaya, di sepanjang jalan yang telah terang benderang saat ini. Wallahu’alam bishowaab
 Hari Minggu yang cerah di Sengata. Matahari menyapa seantero langit dengan cahayanya yang lembut. Saya sedang sibuk dengan deretan anggrek di halaman ketika ada suara menyapa. “ Assallamu’alaikuuuummm….” “ Wa’Alaikum salam…” Saya menjawab salam dan mencari empunya suara. Nampak seorang lelaki menenteng sebuah tas berwarna putih, berdiri di depan pagar rumah saya. Badannya agak gempal, masih muda. Mungkin sekitar tigapuluh tahunan umurnya. “ Ada apa, pak ?” saya bergerak pelan sambil menanyakan maksudnya. Mungkin mencari si Abi nih, pikir saya menebak. “ Minta buuu…” ucapnya sambil menjulurkan tangan kanannya. Sebuah rokok setengah habis nampak terselip di antara jari tengah dan telunjuknya. “ oooh…, tunggu sebentar ya pak “ Saya menghentikan langkah mendekatinya. Ya Allah, ternyata… Saya lalu memanggil Kaka ( khadimat kami ), untuk mengambilkan beberapa lembar rupiah dan menyuruhnya memberikan kepada bapak tadi. Setelah orang itu berlalu, si Kaka mendekati saya. “ Ummi, orang tadi betulan pengemis kah ?” “ Iya “ “ Koq keren banget yah? Pake jeans, kaos keren, trus sambil merokok lagi” Saya hanya tersenyum. Jujur saja, saya tadi juga sangat terkejut, tak mengira kalau orang itu adalah pengemis. Pakaian dan penampilannya sungguh tak menunjukkan tanda – tanda tersebut. “ Enak ya, mi, sambil jalan-jalan dapat duit. Gak pakai kerja “. “ Emang kamu mau kaya gitu ? “ “ Gak ah, malu dong. Enakkan kerja di sini, jagain si Alif “ “ Loh, katanya enak, jalan-jalan dapat duit ?” Saya menggoda si Kaka “ Gak ah…., mending kerja” Ujarnya sambil berlalu masuk ke dalam rumah. Saya melanjutkan mengurus anggrek. Membuang daun-daunnya yang sudah kering, menambah arang dan menyiraminya dengan air bekas cucian beras, agar tumbuhnya lebih subur. Melihat bunga-bunganya yang beraneka warna, sungguh menjadikan kelelahan mata berkurang dan semakin membuat saya mengingat pada Yang menciptakannya. Teringat sebuah kisah di jaman Rasululloh ketika Abdurrahman bin ‘Auf yang memilih minta di tunjukkan pasar saja, agar ia dapat bekerja dan mendapatkan makanan padahal Sa’d bin Ar-Rabi telah menawarkan separo hartanya bahkan istri untuknya. Beliau lebih memilih bekerja daripada menerima tawaran tersebut. Sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Orang-orang tak segan dan malu menjadi pengemis. Bahkan ada pula yang sampai harus bersandiwara untuk menjadi orang cacat demi mendapatkan rupiah. Atau …seperti yang baru saya temui pagi ini ; tampil jujur dengan keadaan sebenarnya. Gagah dalam balutan baju yang rapi dan bagus, sambil merokok pula. Siapa yang tahu alasan apa sebenarnya yang ada dalam benak mereka. Apakah mengemis memang satu-satunya pilihan karena tak ada jalan lain tuk mengapai rezekiNya? ataukah mungkin karena mereka saja yang malas bekerja? Entahlah…., hanya Sang pemilik hati yang Maha Mengetahui … Saya salut dengan si Kaka, walaupun umurnya masih muda, ia rela pergi jauh dari orangtuanya di Kalimantan Selatan. Untuk bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Sudah hampir sembilan bulan ia tinggal bersama keluarga kami. Dari gajinya setiap bulan yang dikirimnya ke kampung, Alhamdulillah dapat sedikit membantu meringankan beban orangtuanya. Dalam hati saya berbisik, seandainya pengemis dengan rokok di tangannya tadi tau, pastilah ia akan malu. Si Kaka dengan tubuhnya yang kecil dan umur yang jauh lebih muda darinya, lebih memilih bekerja daripada menjadi peminta-minta. Semoga Allah memberikan jalan lebih baik baginya dalam mencari rezeki. Mau memberi ataupun tidak, tentulah berpulang kepada keikhlasan kita masing-masing. Yang harus kita ingat, bukankah Islam memandang tangan yang diatas, lebih baik daripada tangan yang dibawah?. Kita yang masih dapat memberi, sudah sepatutnya bersyukur padaNya karena masih diberi kelapangan dan kesempatan untuk berbagi. Tak peduli siapapun yang kita beri dan berapapun jumlah yang telah kita keluarkan. Ingatlah satu hadist Rasulullah ; “ bahwa tidak akan pernah berkurang harta seseorang yang disedekahkan, kecuali ia malahan akan bertambah, bertambah dan bertambah ..” Semoga Allah SWT berkenan meluruskan setiap niat kita, dan menggantikan apa yang telah kita keluarkan dengan bulir – bulir pahala. Amiin ya Robbal alamin… Ujung Musholla, 14 Jan’08
"Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Bulan dimana kita di undang menjadi tamuNya dan dimuliakan olehNya. Setiap nafas – nafas kita adalah tasbih. Setiap tingkah laku kita adalah ibadah. Setiap tujuan langkah kita adalah Allah SWT. Membekali diri dengan persiapan jasmani dan ruhiyah yang baik adalah salah satu upaya kita agar dapat menjalani puasa dengan optimal. Tetapi ingat, selain menjaga kesucian hati kebersihan raga haruslah menjadi prioritas. Kalau selalu bersih, penyakit tak mudah datang, kita jadi sehat. Kalau sehat, badan jadi kuat. Kuat puasanya. Kuat ibadahnya. Mantap …
Islam mengajarkan setiap kita untuk mencintai kebersihan. Ia merupakan satu aspek penting pantulan keimanan seseorang, seperti yang pernah di sabdakan Rasulullah bahwa “ kebersihan adalah sebagian dari iman” (HR. Imam Muslim ).
Ada satu masalah kecil yang bila kita sepelekan akan menjadi besar. Adalah BM atau bau mulut. Hal ini lumrah, apalagi dalam kondisi berpuasa. Dengan tidak ada masuknya makanan dan minuman ke dalam perut kita, otomatis lambung kita akan kosong. Kondisi lambung yang kosong itulah yang dapat memicu pergolakan asam lambung dan akhirnya menimbulkan bm selain juga karena kondisi mulut dan gigi kita yang kurang sehat.
Dalam salah satu hadist shohih disebutkan bahwa “ …Sungguh, bau mulut orang yang sedang berpuasa, lebih harum dari minyak kesturi di sisi Allah SWT …”.
Tetapi, bukan berarti karena hadist ini, kita jadi melalaikan kegiatan bersiwak atau menggosok gigi. Kebersihan gigi dan mulut justru faktor utama yang harus kita perhatikan karena apabila ditinggalkan akan berpengaruh pada aktivitas ibadah kita kepada Allah SWT. Misalnya gara–gara jarang gosok gigi (karena ingin bau mulutnya berubah jadi wangi kesturi), malah membuat sakit gigi. Kata orang, lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati. Ah, masa siihh…. Saya sendiri pernah merasakan sakit gigi. Sakitnya Masya Allah. Bila anda belum pernah sakit gigi, silahkan tanya kepada orang yang pernah merasakan bagaimana ‘tersiksanya’ bila sakit itu mendera. Serba salah pokoknya. Sekedar berbaring atau duduk saja sudah tidak enak, apalagi yang mau ngerjain yang lain-lainnya.
Hal ini tentu saja akan sangat berpengaruh pada target ibadah yang sudah kita susun, bisa – bisa semuanya jadi kacau karena kita tidak bisa konsentrasi. Tilawah jadi susah, dan shalatpun tidak bisa khusuk (karena gigi nyut – nyut). Kalau gigi nyut – nyut biasanya dibarengi dengan kepala cenut – cenut. Kalau dengar suara agak ribut, bikin kita jadi cemberut. Repot ….
Bersiwak saat puasa adalah mubah (Hr. Bukhari dan Abu Daud). Sebagian ulama berpendapat makruh hukumnya apabila dilakukan pada saat setelah dzuhur dalam bulan puasa. Dengan kata lain, hindari menggosok gigi setelah waktu dzuhur. Nah, karena kebanyakan dari kita menggosok gigi pada pagi hari, maka tidak perlu meninggalkan aktivitas tersebut selama kita berpuasa kan ?.
Jadi, puasa tidak selalu identik dengan BM. Tergantung dengan bagaimana kita menjaga dan menanganinya. Tetap menjaga kebersihan gigi dan mulut ( gosok gigi minimum tiga kali; sebelum/setelah sahur, setelah buka dan sebelum tidur, ditambah kumur – kumur dengan mouthwash atau air rebusan sirih yang kita buat sendiri ), Insya Allah akan membantu meminimalisir resiko BM yang bisa mengganggu aktivitas ibadah kita selama puasa. Sehat ruhiyah, sehat jasmaniah. BM gara – gara puasa ? Gak juga kalee … Wallahu ‘alam bisshowab.
Ujung Musholla, 20 Sept’07
Lebaran sudah di depan mata. Terbayang sudah keindahannya. Sholat Ied berjamaah di lapangan dan berkumpul bersama seluruh keluarga adalah moment yang sangat dinantikan. Kemarin saya pergi ke sebuah mall di Samarinda. Tak seperti hari – hari biasanya. Hari menjelang Lebaran memang selalu penuh sesak dengan manusia. Stand – stand baju, sepatu, sampai stand kue kering berlomba menawarkan ragam diskon untuk menarik pembeli. Mungkin karena terbiasa tinggal di kota kecil yang lowong seperti Sengata, rasanya saya tak betah berlama – lama dalam suasana sesaknya. Ketika saya terpaksa harus mengantri di kasir, tak sengaja mata saya terpaku pada seorang bapak yang di kelilingi tiga orang anaknya. Di stand sepatu persis di seberang meja kasir tak jauh dari tempat saya berdiri. Tampak si anak merengek – rengek ingin di belikan sesuatu. Seorang menarik bajunya, seorang menarik – narik tangannya, bahkan anaknya yang paling kecil sudah menangis bahkan sampai duduk di lantai. Suara tangisnya yang nyaring, membuat beberapa pasang mata melotot tidak suka. Sadar akan hal itu, segera di rengkuhnya si anak yang menangis di lantai lalu di dekapnya di gendongan. Si bapak nampak sabar menjelaskan kepada anak – anaknya, agar dapat lebih tenang. Mungkin isi kantongnya tak mampu membayar semua permintaan sang anak. Tiba – tiba saya teringat kenangan masa kanak – kanak dulu. Ketika, saya dan adik – adik yang selalu egois menuntut sesuatu di setiap Lebaran. Bahkan kadang di sertai dengan ancaman dan merajuk tak mau ikut lebaran kalau sampai keinginan beli baju dan sepatu baru tidak di turuti. Astaghfirullah…, ada rasa bersalah yang sangat menyeruak kalbu … Saya mencoba merasakan apa yang berkecamuk dalam kepala dan hati si Bapak itu. Pastilah ada keinginan untuk meluluskan keinginan sang anak. Membelikan apa yang mereka minta, walaupun harus menepiskan keinginannya sendiri. Pastilah, perasaan itu pula yang di rasakan oleh papa. Beliau rela memakai baju koko yang itu – itu saja bila lebaran tiba. Hanya agar keinginan kami terbayarkan. Menenggelamkan keinginan hatinya hanya demi melihat senyum – senyum lebar kami saat memakai baju dan sepatu baru di hari Lebaran. Lamunan saya terhenti ketika tiba giliran untuk membayar di kasir. Saya lalu membereskan barang yang saya beli lalu bergegas meninggalkan mall yang penuh sesak tersebut. Sepanjang perjalanan pulang, rekaman kejadian di mall tadi kembali berputar – putar di kepala. Membuat kerinduan pada papa kembali hadir dalam hati.. Dari beliaulah kami belajar, bagaimana cara mengelola diri dalam Ramadhan. Beliaulah yang membuka mata dan hati kami dengan kunci kesederhanaan. Sayang, tak lama moment Ramadhan dan Lebaran yang kami lalui bersama. Beliau berpulang di saat kami menjelang dewasa dan mulai mengerti apa arti hari kemenangan sesungguhnya Sekuntum doa saya bacakan untuk papa. Ya Allah, ampunilah seluruh dosa – dosa papa. Gantikanlah setiap tetes keringatnya dalam mencari rezeki untuk kami dengan butir – butir pahalaMu. Lapangkanlah kuburnya ya Rabb. Sayangilah papa, sebagaimana beliau selama ini menyayangi kami anak – anaknya. Rasa rindu yang membuncah membuat butiran airmata deras mengalir di pipi. Lebaran sebentar lagi. Itu artinya pertemuan dengan Ramadhan penuh berkah tinggal dalam hitungan hari. Tak ada lagi tarawih bersama, tak ada lagi serunya makan sahur dan tak ada lagi nikmatnya berbuka puasa bersama. Ya Rabb, Semoga sepercik rindu saya pada papa, sama seperti kerinduan hati untuk dapat kembali lagi bertemu dengan RamadhanMu yang indah dan bersiap diri menyambut hari Kemenangan … I really miss u, papa … Ujung Musholla, Oct’07
Suatu hari yang cukup terik di pinggiran Mahakam. Saya terpaksa mengantri demi mendapatkan bahan bakar untuk roda dua kami. Sekarang memang mau apa – apa sepertinya harus ngantri, beli sayur, ngantri. Bayar listrik, ngantri. belum lagi harga- harga yang selalu naik. Ya …., gitu deh …. Sementara suami mengantri, saya menunggu di depan pom bensin. Karena terlalu terik dan tak ada tempat berlindung di dekat pom bensin ini, maka saya berjalan sedikit ke atas bukit kecil yang ada pohon beringinnya. Sempat saya keluarkan beberapa lembar uang untuk seorang pengemis yang kebetulan saya lewati, kemudian bergegas untuk berteduh. Alhamdulillah, sejuk sekali rasanya. Selain teduh dan semilir angin Mahakam yang mengalir deras di sini, lumayan, pengobat jenuh menunggu. Dari sini, saya dapat dengan jelas mengamati keadaan di sekeliling bukit.Termasuk aktifitas beberapa pengemis yang berseliweran di area pom bensin tersebut. Mata saya kembali tertuju pada pengemis yang tadi saya beri rupiah. Lelaki, dengan baju yang sangat lusuh dan kaki yang (maaf, pincang sebelah), tangan kirinya menengadah sedangkan tangan yang lain memengang kantong plastik hitam yang entah apa isinya. Bila di perhatikan lebih jeli, dari wajahnya bisa terlihat kalo umurnya masih sangat muda. Menurut saya, mungkin tak lebih dari dua puluh lima tahun. Tertatih – tatih Ia menyeret kakinya berpindah dari satu motor ke motor yang lain. Berat nian nampaknya beban yang di rasanya. Apalagi dari beberapa orang yang di singgahinya, hanya beberapa saja yang nampak mengisi tangannya. Setelah berkeliling di antrian, pemuda itu langsung terduduk di pinggir trotoar. Di bukanya topi capingnya yang lusuh, lalu di kipas – kipaskannya ke wajahnya. “ Ya Allah, berilah kemudahan untuk pengemis itu dalam mengais rezekiMu…”, bisik saya dalam hati, terenyuh sekali rasanya. Benar – benar pemandangan yang membuat saya semakin bersyukur, atas segala kecukupan yang diberikan Allah pada kami. Pastilah dalam benak mereka, tak ingin juga hidup sebagai pengemis. Keadaanlah yang akhirnya membuat mereka terpaksa menjalani profesi tersebut. Tapi inilah kehidupan. Allah yang Maha Berkuasa, sengaja menciptakan kita berbeda – beda. Di jadikannya si miskin agar bisa bersabar, dan di jadikanNya si kaya agar dapat lebih bersyukur padaNya. Antrian masih panjang. Saya masih setia mengikuti gerak – gerik pengemis muda itu. Hampir lima menit berlalu. Matahari semakin tinggi dan sinarnya semakin terik. Tiba – tiba pengemis itu berdiri, dengan perjuangan yang nampaknya sangat melelahkan untuk sekedar berdiri. Perlahan, masih dengan tertatih – tatih ia menuju pinggir sungai di belakang pom bensin, berlindung di sebuah pokok pohon. Tapi dari atas bukit kecil ini, saya masih bisa melihat semua gerakannya. Setelah duduk di akar pohon, dibukanya topi capingnya. Lalu di keluarkannya sesuatu dari kantong plastic hitam yang sejak tadi di genggamnya. Ternyata selembar baju berwarna biru. Setelah berganti baju, lalu dilipatnya baju dan topi yang tadi di kenakan dan di masukkannya ke dalam kantong plastik itu dan di selipkannya ke dalam baju yang dikenakannya. Kemudian, sosok itu bangkit, setelah menoleh kiri-kanan, ia lalu melangkah keluar dari balik pohon itu. Nampaklah seorang pemuda yang gagah dan rapi. Badannya tegap dan jalannya lurus. Ternyata, pengemis itu ….??? Subhanallah! Hanya karena Allah yang Maha Berkehendak, saya dapat menyaksikan semua ‘sandiwara’ seorang pengemis muda tadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Tak ada yang dapat saya lakukan, dan tak ada pula kata – kata yang terlontar. Hanya sebait doa yang terangkai dalam hati. “ Ya Allah, semoga, kejadian ini tidak mengurangi niat saya, untuk selalu mau berbagi dengan para pengemis…”. Insya Allah!. Ujung Musholla, 26 Oct’07
| |