YunnyTouresiaYurdhiansyah

Yunny's posts with tag: cerpen

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen
Blog EntryPelangi di Hutan ParaDec 25, '07 9:25 PM
for everyone

Sinar jingga sang surya menyapa lembut pucuk – pucuk para. Sinarnya yang terang menusuk – nusuk diantara dedaunnya, Mengingatkan kami, para penurih para (baca: penyadap karet ) untuk segera pulang. Aku segera mengigatkan istriku, Fatimah untuk segera berkemas. Semua peralatan termasuk pahat, sudah berada dalam anjat di punggungku ketika aku dan istriku melangkah meninggalkan lokasi menurih. Aku melangkah di depan, menggendong anjat dan menenteng ember berisi liter – liter para. Tak jauh di depan kami, beberapa orang penurih juga sudah berkumpul di pinggir jalan, mengelilingi Haji Astaman, Orang paling kaya pemilik hampir separuh kebun para di kampung ini. Walaupun orang kaya, tapi terkenal baik dan ramah. Beliau satu – satunya pengumpul para, tempat kami menjual hasil turihan. Biasanya para yang terkumpul langsung di kemas lalu di kirim dengan truk – truk milik beliau langsung ke pabriknya di Banjarmasih.

Banjarmasin. Nama ibukota Kalimantan Selatan ini begitu ku kenal. Tapi jujur saja, dari lahir sampai punya istri, aku belum pernah kesana. Paling jauh aku ikut Abah ke simpang Paringin. Yaitu perempatan antara kota Barabai, Tanjung, Amuntai dan Juwai, kecamatan yang menuju ke kampungku. Biasanya dari sini, kampung Sungai batung, kami naik angkutan pedesaan. Satu-satunya transportasi umum yang ada. Bentuknya seperti pick up beratap, dengan dua bangku panjang di tiap sisinya yang letaknya berhadapan. Aku paling suka duduk dibelakang. Kita dapat bebas menikmati pemandangan kiri-kanan dengan desauan angin karena tidak ada dinding yang menghalangi. Dari Sungai batung kami harus melewati kampung Gulinggang, Kampung Hamarung, dan  kampung Ninian sebelum sampai ke tujuan. Sekitar satu jam lebih lamanya. Dulu, waktu Abah masih hidup dan aku belum menikah, ongkos angkutan pedesaan hanya sekitar lima ribu rupiah per orang. Sekarang sudah naik seratus persennya.

 

Aku selalu menyukai saat-saat berpergian dari Sebatung ke Paringin. Hamparan para menaungi di sepanjang perjalanan. Biasanya kami membeli bahan pokok seperti minyak, sabun, sampoo, dan beberapa macam alat pertanian seperti arit dan pahat untuk menurih yang sulit di dapat di Sungai batung.  Perjalanan Sungai batung – Paringin jualan yang akhirnya mempertemukanku dengan istriku tercinta, Fatimah. 

 

………………..

 

 

 Alhamdulillah, hari ini kami mendapatkan hasil cukup banyak. Aku menghempaskan badanku di samping ember sepuluh literan yang ku letakkan di pinggir jalan, dekat pokok para, menunggu giliran sebelum menukar isi ember dengan uang. Istriku sedang berbincang dengan sesama wanita, ada si Niah, Imai dan Nenek Irai, tidak jauh dari tempat aku duduk.

“ Banyak kah dapat, Mat ?”. si Udin menghampiriku sambil menjulurkan tangannya, mengajak bersalaman. Segera ku sambut tangan udin dan menawari tempat di sebelahku.

“ Alhamdulillah, Din. Ikam pang ?”.

“ Alhamdulillah …Mat, lumayan jua aku dapat hari ini”. Udin langsung menghempaskan dirinya, duduk selonjor di sampingku. Ku lirik si Udin dengan ekor mataku. Tampak ia sibuk menyapu keringat yang membanjiri dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Topi capingnya telah berubah fungsi jadi kipas.

Udin adalah temanku sejak kecil, rumah kami bersebelahan. Sampai sekarang pun tetap sama. Kalo di kampung seperti di tempatku ini, biasanya dari lahir sampai tua, rumahnya tetap di situ – situ saja.

 

“ Wuy, siapa lagi nah yang handak ?”

Suara Haji Astaman mengagetkanku. Ku sikut si Udin yang ternyata sempat terlelap. Bergegas kami berdua mengangkat ember penuh para mendekati sumber suara. Setelah menghitung hasil, Haji Astaman memberikan uang pada kami.

 

“ Hitung dulu, sapa tahu kena kurang. Aku tu paling tekutan amun temakan hak urang”.

Ujar haji Astaman bijak.

“ Inggih, Ji “. Ujarku sambil menghitung uang yang ku dapat.

“ Alhamdulillah Ji, sudah bujur hitungannya” ujarku sambil menyalami Haji Astaman. Beliau menyambut tanganku hangat.

“ Ku tukar lah, Mat. Beredaan kita …“. Ujar beliau lagi. Ini adalah kalimat akad yang sudah biasa bagi orang – orang di kampong kami. Sejak kecil aku di ajarkan untuk mengucapkan kalimat tersebut apabila melakukan jual beli.

“ Biar kada besangkutan amun kita mati “. Demikian penjelasan tuan guru, ketika aku bertanya alasannya. Tuan guru adalah sapaan kami untuk Ustadz Jamal, Imam masjid yang satu – satunya di kampong kami.

 

“ Inggih, ulun jual, Ji”. Aku menjawab sambil melipat selembar uang lima puluh ribuan dan tiga lembar sepuluhan. Si Udin juga sudah memegang uang dari haji Astaman di tangannya. Enam puluh ribu jumlahnya. Aku dapat lebih banyak walaupun hasil kami sama. Tapi uang yang di dapat berbeda. Kalo aku mendapat tiga per empat dari total hasil yang ku dapat. Seperempatnya lagi untuk pengumpul. Bagi yang tidak punya kebun para, seperti si Udin, perhitungannya langsung dibagi dua. Separo untuk penurih, separonya lagi untuk pengumpul.

 

Jenis para di kampungku terbagi dua macam. Para hutan dan para unggul. Kalo para hutan, adalah para yang ditanam oleh nenek – nenek kami dulu. Seperti milikku. Aku mendapatkannya dari Abah. Umurnya sudah ada yang mencapai lebih dari dua puluh tahun. Besar pohonnya bahkan ada yang sebesar tiga kali drum air!. Besar !. Kulit batang para hutan keras – keras, kadang tangan kita bisa lecet waktu menurih, apalagi kalo pahat yang digunakan gagangnya tidak di puntal dengan karet atau di lapisi kayu. Tapi untungnya, kalo para hutan ini, harganya lebih tinggi. Alasannya ya, karena memang lebih sulit untuk mendapatkannya.

 

Kalo para unggul adalah para yang memang sengaja di tanam dengan tujuan mendapatkan hasil. Cara menanamnya pun rapi, tidak seperti para hutan yang terkesan asal tanam. Para unggul letak pohonnya beraturan, jarak satu pohon dengan lainnya. Lebih mudah untuk proses penurihan. Untuk para unggul, kulitnya lebih tipis sehingga lebih mudah di turih dan tidak perlu banyak tenaga. Pohonnya tidak terlalu besar. Hanya perlu menunggu lima sampai tujuh tahun untuk bisa di ambil hasilnya. Jumlah literan yang di dapatpun lebih banyak. 

 

Ku hampiri istriku, Fatimah, lalu menyerahkan uang tersebut kepadanya.

“ Alhamdulillah, terima kasih kak”. Fatimah menyambut uang yang ku beri sambil tersenyum  manis. 

 

 

 

oooooooooooooooooooooooo00000OOOO00000ooooooooooooooooooooooooooooooo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“ Mat !! amat !!! ..ikam dimana, Mat ??!! “

suara julak Aban menggema seantero rumah

Aku sedang mencuci piring di pejijipan. Cepat ku letakkan piring di tanganku, bergegas menghampiri sumber suara sambil mengucapkan salam.

“ Assallamu’Alaikum …”

Julak Aban menghentikan langkahnya, sambil tersenyum simpul. Ia nampak tersipu dengan sapaanku.

“ Maaf…, Waalaikum salam …”.

“ Julak ini, koq masuk rumah langsung berkuriak –kuriak haja, sampai kada ingat awan salam lagi “.

Aku protes. Terus terang aku kurang suka dengan orang yang selalu lupa salam. Bukankah salam itu doa ?.

“ Iih, Astaghfirullah…aku handak hancap nah, sampai kada ingat lagi be assallamu’alaikum. Ada yang penting handak ku sampaikan “.

Mimik julak Aban nampak serius sekali. Aku mempersilahkannya duduk lesehan di ruang tamu serbaguna kami. Serbaguna ? iya, karena kurang pas kalo disebut ruang tamu, karena disinilah tempat kami melakukan hampir delapan puluh persen aktivitas harian kami. Termasuk untuk makan, tidur, dan menerima tamu. Jangan banyangkan ruangan serbaguna di gedung – gedung pemerintah ya. Karena ukurannya sangat mini, Cuma 2 X 2m Maklum dengan penghasilanku sebagai tukang kayu, mana cukup untuk sewa rumah besar. Bangsal seperti ini aja sudah lebih dari cukup untuk kami.

 

“ Eh, Mat, kenapa pulang ikam ni melamun ?” Julak amat mengibas – ngibaskan telapaknya di depan mataku

“ Astaghfirulloh….”. Aku ber istighfar. Segera aku menanyakan maksud kedatangan Julak Aban. Ternyata julak Aban lagi bingung, anak buahnya sekaligus tangan kanannya untuk proyek pembangunan kantor lurah, si Haidir tiba-tiba pulang kampong ke Banjarmasin karena orang tuanya sakit keras. Beliau memintaku untuk bisa menggantikan Haidir. Alhamdulillah…, Senangnya hatiku. Lumayan untuk menambah penghasilan. Biasanya setiap dua hari aku dan istriku hanya menurih para di gunung. Sebelumnya kami menurih para setiap hari. Tapi sekarang, para hutan milik kami sudah berkurang hasilnya. Kalo hasilnya sedikit otomatis uang yang kami dapat tiap haripun sedikit. Jadilah sejak hampir lima bulan ini kami menurih hanya dua hari sekali, dan mulai berkebun lagi diantara hari kosong tersebut.

Kami masih terlibat pembicaraan serius ketika Fatimah, istriku mengucap salam di depan pintu. Wajahnya kelihatan sangat letih. Bakul sayur masih melekat di gengamnya. Ku tatap matanya bulatnya sambil menjawab salamnya. Seperti biasa, senyum manis penghias bibirnya kembali terkembang. Setelah meyapa Julak Aban dan mencium tanganku, dia segera pamit untuk masuk ke dalam.

“ Kalo mau langsung mandi, airnya masih panas di ciret, Mah “. Aku memberitahu istriku, biasanya setelah lelah berjualan sayur, dia langsung mandi kemudian sholat Ashar. Dia tidak terlalu kuat mandi air hujan, sepertiku.

“ Iya kak, makasih “.

 

“ Eh, aku handak bulik jua nah. Jadi ikam siap – siap haja, Mat. Hari Ahad ini kena ikam ku ambili, jam delapan sudah harus siap”.  Julak Aban mohon pamit, siap – siap bangkit.

“ Kada minum dulu kah Julak, tunggu ulun olahkan setumat “.

“ Kada usah repot- repot, aku sudah minum tadi di rumah”. Julak Aban berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.

“ Maaf lah Julak, kadada apa-ap…”

“ Kada papa, biasa aja …” Julak Aban memotong ucapanku. Sebenarnya, aku juga hanya basa-basi saja. Selain air putih, tidak ada makanan dan kue yang bisa ku sajikan. Segera ku cium tangan yang menjulur di depanku.

 

Aku menutup daun pintu ketika sosok Julak Aban sudah hilang di pelengkongan. Ku hampiri Fatimah yang sedang duduk bersandar selonjor di dapur. Perlahan, ku raih kakinya dan membaringkannya di atas pahaku. Ku pijat pelan – pelan telapaknya. Fatimah terkejut dan langsung menarik kakinya. Tapi segera ku tahan.

“ Kada usah, gin, kak “. Tolaknya.

“ Kada papa, Fat. Ikam uyuh kalo bulik bejualan “. Aku terus memijat pelan telapak mungilnya. Fatimah hanya diam sambil terus bersandar. Senyum yang ku suka kembali terkembang.

“ Apa jar Julak Aban, Ka ?”  Fatimah menanyakan maksud kedatangan julak Aban.

“ Sidin minta aku menggani-i sidin menukang. Itu, pembangunan gedung kelurahaan yang hanyar “. Aku menjelaskan.

“ Trus, pebila jadinya “.

“ Insya Alloh hari Ahad beisukan aku diambili sidin. Tapi ….”

“ Tapi kenapa kak ?”. Fatimah memotong ucapanku.

“ Itu artinya ikam menurih para sorangan mulai hari Ahad kena, Fat “.

“ Oohh…ya, kada papa, kak. Kan kita menurih dua hari sekali jua ..”

“ Jadi kada papa, nih, sorangan …” Sebenarnya jujur saja, aku agak berat membiarkan Fatimah menurih para sendirian. Jarak dari rumah kami ke lokasi menurih di gunung lumayan jauh. Sekitar delapan kilometer berjalan kaki. Biasanya kami berangkat sebelum matahari terbit dan sampai di lokasi ketika sinarnya sudah mulai menyapa.

“ Kada papa, kak ….”. Fatimah beranjak sambil mengusap daguku manja, dengan senyum yang masih mengembang. Sepertinya dia tau apa yang sedang ku pikirkan. Aku membalas senyumnya.

“ Kalo mau mandi banyunya masih panas di ciret, Mah “. Aku memberitahu Fatimah.

Aku memang sengaja merebus untuknya tadi. Dia tidak terlalu kuat mandi air hujan sepertiku.

“ Inggih kak, makasih”.

“ Ulun mandi dulu, ya” Ujarnya lalu beranjak masuk ke pejijipan.

Tak lama ku dengar suara air di belakang. Fatimah lagi mandi. Segera ku tutup pintu depan dan membereskan keranjang yang di bawa istriku tadi.

Ah, Fatimah. Benar-benar wanita impianku. Kadang aku kasian dengannya. Sejak menikah denganku setahun yang lalu, rasanya belum pernah aku membahagiakannya seperti yang dilakukan suami kebanyakan. Aku belum pernah membelikannya seuntai kalung emas ataupun gelang walau hanya sebesar janggut hundang. Padahal, sebelum menikah, dia terbiasa dengan hidup berkecukupan. Ya, siapa yang tidak mengenal haji Surianyah, jurangan tanah paling kaya yang hampir menguasai seluruh kawasan tanah di kampung seberang.

 

 

 

 

*blum selesai, euy … ;)

 

 


Blog EntryMenggapai HidayahDec 25, '07 9:05 PM
for everyone

Menggapai Hidayah

- Yunny  Touresia -

 

 

 

Sepinggan Airport. Pukul 05. 40 am. Uh ! kalau saja kemaren Garuda yang menerbangkanku dari Jakarta ngga’ delay, pastilah aku ngga’ perlu overnight di Balikpapan, dan pasti juga aku ngga’ perlu ngikut casa pagi buta kaya gini.

Ku rasakan persendian lututku masih lemas, biasalah cowok gaul…..nyempet-nyempetin short time-nya Pinisi Pub!.

 

          Setengah berlari ku hampiri counter Airfast menyerahkan tiketku dan membereskan barang bawaan.

Kuhempaskan tubuhku di samping seorang wanita berjubah biru dengan kerudung putih yang sedang membaca buku. Kulihat ia menoleh sekilas padaku. Busyett deh…bening banget…., kulempar senyuman mautku. Cepat dipalingkannya kembali wajahnya setelah membalas senyumanku.

Oh my God, bening banget nih cewek!…tapi sayang…’ndut sih…!!.

 

          Ibarat pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Cewek bening itu kebagian seat di sebelahku. Tampak ia berdiam sesaat, berdoa kayanya. Emm…kapan ya terakhir kali aku berdoa ketika naik casa ini ? Aku coba-coba mengingat, ngga’ pernah!. Kulirik makhluk manis disebelahku tersenyum setelah selesai berdoa, lalu sibuk menebar pandangannya ke luar jendela.

 

“ your first time ?” aku mencoba membuka percakapan. Setelah beberapa menit kami mengudara.

“ Ehm…iya.” Dia menjawab sambil tetap menatap awan disebelahnya.

“ Liburan atau kerja nih ?”

Insya Allah, kerja.”

“ Saya Rio,” aku menjulurkan tanganku padanya.

Imut, Muthmainah Aisyah.” Ia tersenyum sambil merapatkan kedua telapak tangan di depan dadanya, menolak tanganku.

Cepat ku tarik tanganku sambil tersenyum kecut.

 

Gile, she’s refused my hand ! Sombong banget ! belum pernah ada yang bersikap seperti ini padaku sebelumnya. Rita, Susan, Lusi, Esti, Wulan, dan sederet lagi cewek-cewek yang berhasil ku taklukan, belon lagi yang ngantri, man !

 

Uh !! jadi sebel aku sama cewek ndut ini, sok alim !

Ih ! dipikir aku naksir kali….? Ngga’ maen deh ya ama cewek ndut ! emangnya aku kurang cewek ? nehi !

……….

          Selesai memasukan barang ke bagasi, aku langsung tancap gas. Sangatta …..I come back ! .

Sangatta, one of the jungles of Kalimantan !  kota kecil penghasil emas hitam number one in Indonesia ini adalah ibukota kabupaten Kutai Timur. Letaknya emang ditengah hutan, but jangan salah ! penduduknya udah 99 persen kotaan. Ehm…kota kecil yang indah….., sangat cocok buat pria berjiwa petualang dan pemberani kaya aku, jumlah Pub and karaoke  bersaing dengan banyaknya surau dan masjid.  Ceweknya ? Wuih ! don’t ask me about that, man !  tinggal pilih ! mo’ yang mana ? tinggi ? pendek ? hitam ? putih ? belang…..??!!! hahaha….untuk yang terakhir aku  belum pernah nemuin ! Anyway …., tergantung tebalnya kantong  dan gaulnya kita aja, gitu loh ! 

 

…………………………………..

 

Hei !! What’s wrong with this computer  ? ku pencet kuat-kuat tuts keyboard computerku.

Ngga’ biasanya gini,   slowly amit, man !

Pasti ada yang ngotak-ngatik nih waktu gue cuti ! Aku bersu’udzan.

 

So, Rio…, have you finished your job ?”. Big Boss ku,  Mr. Greg melangkah mendekatiku.

“ Em…sorry, not yet, sir ! there’s something with this computer. Very slowly !.

“ Oh ye ? by the way, I just to remind you….I really need this data for meeting tomorrow morning, then “.

Aku mengangguk pelan. Ih….kesel !!!

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Ih ! gara-gara computer jelek nih !. Terpaksa kutolak ajakan Nia buat lunch bareng tadi. Nyesel juga sih, soalnya tuh cewek udah lumayan lama jadi inceran. Cantik, seksi, tinggi, sekretaris GM lagi !

Untunglah dia mengerti dan menerima tawaran dinner denganku malem ini.  Ngayal dulu ah…dan blub ! pikirkupun melayang. 

          Dinner with Nia.  Pastilah ia akan siap dengan gaun seksi seperti biasanya, gaun panjang dengan potongan dada yang rendah  dan belahan paha yang panjang ! kemudian….aku akan menggandeng tangannya menuju meja di pojok ruangan yang baru saja kupesan. Kemudian….kami dinner dibawah lampu remang-remang, ditemani lilin dan alunan musik klasik.

Kemudian aku akan memberinya setangkai mawar…kemudian…mengecupnya…

Wouw !!!  it will be a great night !

 

          Kemudian…….Adauw !!!! ngga sadar aku menjepit jempolku sendiri dengan binder clips yang ku pegang dari tadi.

Hei ! hampir forget deh aku, job dari boss must be finished today , man !

 

Langsung ku pencet extension sobatku, Azil. Mo’ minta bantuan..., dia kan paling jago computer, sayang karirnya kandas tertimbun batubara !  

 

“ Azil….!” Suara nyaringnya yang khas memenuhi telingaku.

“ Eh, Zil ! …gue nih, how are you, man ?”

“ Akhi  Rio ? Assallamu’Alaikum….., kumaha kabarna eui ?”.

Ah, ini dia khasnya Azil …punya banyak stok  salam dan selalu saja menyapaku dengan panggilan akhi.  Padahal kan namaku Rio ? tapi that’s ok lah…ngga’ rugi ini ! Entahlah, ada rasa akrab yang sangat setiap kali dia memanggilku akhi .

“ akhi  itu sapaan untuk lelaki dalam Islam“.  ujarnya dulu ketika aku pernah protes waktu pertama kali Si Azil memanggilku.     

So, ya nggak muasyalah kan ? Toh aku kan juga ‘Slaaammmmm………

“ Rio …? Ri….”.

“ Oui ! Eh, kumsalam! …. Sorry…gini,  perlu pertolongan nih…bisa ngga’ ya ?”.

Insya Allah, ada apa sih yo ? urgent yah ?”

“ Yo’a, gue deadline sekarang, but komputer gue Zil…suddenly jadi slowly buanget ….   

.lu kesini dong, bantuin !“.

“ Melas banget nih ? Iya deh…kebetulah ana lagi shaum, kamu ngga’ maem ?

“ Udah, so I’m waiting for you, Azil !”

I will be there in ten minutes…Insya Allah !  ”.

“ Ok, see u …”

Klik. Aku meletakkan kembali handset  personal  telponku.  Nunggu bantuan datang.

 

          Mmmm...Azil. Tanzilullah Setiawan. Sahabat setiaku. Sebenarnya, cakepnya hampir menyamaiku…but itulah…dia ngga’ mau memanfaatkan potensi yang dimilikinya, ngga gaul !

Liat aja, hampir lima tahun di sini…mana ada gandengannya! ngga’ kaya aku nih ! Hayo…sekarang aku nanya, siapa sih yang ngga’ kenal si cakep Rio, Cowok blasteran Jawa - Australi, Senior Mine Engineer- nya PT. Kaltim Batubara ? kenal semua, man !

Berapa banyak cewek cantik dan seksi yang lunglai dengan kipasan mautku ?  

Ah…Azil !  dulu aku pikir dia cuman mau berkawan dengan sesama anggotanya saja, itu tuh…. cowok-cowok dengan kopiah dan baju koko yang tempat nangkringnya di masjid dekat camp.  Bagaimanapun, aku bersyukur dia mau sohiban denganku. Dia sering sekali mengingatkanku tentang sesuatu, menyampaikan kebenaran-kebenaran yang sebenarnya aku juga sudah tau.

Sohibku ini paling getol ngajakin aku ngaji, padahal dia tau aku selalu nyari alasan biar ngga ikut…., paling rajin ngingetin buat shalat, puasa……dan apa-apa yang harusnya dikerjakan oleh seorang hamba kepada Rabb-nya.

 

          I’m Moslem ! Tapi ….jujur nih, aku jarang shalat ! cuman pas Idul Fitri ama Idul Adha doang !

abis aku sibuk sih !, deadline ‘mulu ! cewek-cewekku aja pada protes karena jadwal ngapelku kacau !

Tapi gimana ya ? hidup cuman sekali, man !  rugi dong kalo di sia-siakan ….!

lagipula aku sadar diri koq sering buat dosa….So,….aku belum siap !     

 

“ Semoga Allah memberimu Hidayah, yo !” 

Aaaaaammmmmmmmmiiieeennnnnn…..!!!!!”.

 

          Dan aku menjawab dengan setengah berteriak dan baru berhenti setelah dia menyikutku !. Selalu begitu.

Hidayah ?  kadang terlintas sih dalam pikiranku, mungkin ngga orang seperti aku ini ngedapatin yang namanya hidayah ?

Entahlah….yang pasti ada perasaan damai yang merasuki ruang hatiku setiap aku memikirkan tentang Allah dan hidayah.

 

…………………………………….

 

Ups…sorry, I can’t do anything with this computer”. Azil bersuara setelah beberapa menit tenggelam dalam komputerku.

So….”

So…what…? Call system department, akhi !?

Oh god ! system department ?  hi hi..koq ngga’ terpikir sih ?

“ kalo gue nyambung dari tadi, gue ngga’ perlu nelpon kamu tadi ya, Zil ?!

“ Uh dasar…” Azil menyikutku.

“ Adaowww…..” Uh !! boleh juga nih sikutannya, sakit, man  !!

…………………………….

System Department, hallo…”

Terdengar suara merdu diseberang menjawab panggilanku.

Insting play boy ku tersentuh, Rasa-rasanya aku pernah dengar suara ini deh, anyway,  kerjain ah….

 

Oui,  …Morning ! i’m Rio from Mine Planning, pa kabar ?”.

Aku say hello dan memperkenalkan diri dengan bahasa adukan English.. Biar keren githu, Rio…. Hi..hi..hi…..

 

Oui,  bonjour! Je vais tres bien, merci ! Je m’appele  Muthmaninnah….., Est-ce je puis vous servir ?  « 

 

Nah loh ! si cewek ngomong apaan nih ? koq kaya France gitu ya …, Waduh, aku gak ngerti nih !.

«  Sorry, i don’t understand, ngomong apaan sih ?…. »

Aku langsung protes karena ngak ngerti apa yang dia omongin.

«  Maaf…..ya, apa kabar juga, pak? kabar saya baik, ada yang bisa saya bantu ? « .

Akhirnya suara di seberang ngomong pake Indonesia juga….syukur deh ….

«  Jangan panggil pak dong, saya masih muda loh …., ngomong – ngomong tadi bahasa Prancis ya ? »

«  Ups…, maaf mas, abis tadi bilang oui sih, saya kira bisa nge-France « .

 

«  oo…tadi itu reflek aja, abis, suara kamu manies buanget sih…. »

Aku mulai melontarkan jurus rayuan mautku. Sesaat tak ada suara yang terdengar di seberang sana. Gile !! selain Steve Cloutrier, Mining Advisor yang satu department dengan ku. Rasanya baru kali ini aku ketemu makhluk yang bisa nge-France seantero Sangatta loh!,

 

” Sorry..., becanda. Emang kamu belajar di mana ?”

” oh, saya kuliah di sana mas, btw, apa yang bisa dibantu nih ?”

Suara itu langsung memotong langkah pembicaraanku.

Tiba-tiba saja suara merdu itu berubah jadi tegas.

Aku jadi males nerusin niatku. Padahal aku pikir obrolan kami bakal panjang...

Langsung to the point ku explained masalahku.

Buntutnya suara itu menyuruhku mengantar computerku langsung. Uh..Sebel !!

Nih computer khusus program soalnya. Bentuknya persis computer jaman batu !, CPUnya aja segede kardus ! ….berraaattt…..

           

          Untunglah office building kami berdekatan. Tinggal tancep gas dikit aku udah nyampe. 

Hi hi..kebiasaan buruk nih ! males jalan kaki, lagipula cuek bebek…ada mobil koq !

……………………………………

          Aku berpapasan dengan Mas Indra, salah satu kru systems dipintu depan. Aku langsung bilang tujuan kedatanganku padanya.

 

“ Oh, kalau masalah itu, lu langsung ketemu dokternya, orang baru !. ..tuh disana, di meja paling pojok ”.

Oh! the new one ?!”

Yap ! ….be careful….pretty girl !” Ujar mas Indra setengah berbisik sambil berlalu.

Okay, thank’s ”.

 

Aku menuju meja yang ditunjuk mas Indra. Perlahan ku letakkan CPU ku. Tiba-tiba … Deg !… Oh my God ! ini kan cewek yang berkerudung ….yang bening itu kan ???!!……yah…tapi ndut ! tiba-tiba aja aku ingat dia pernah nyuekin aku dulu !.

 

 

Ada yang bisa saya bantu, pak ?”.

 

Aku gugup. Kuatur napasku satu-satu, bukan karena cape ngangkat CPU …, tapi wajah ini loh….duh God ! tambah bening aja, immmuuuttttt banget….

 

“ Hallo….”.

“ Oui, iya…saya….maksud saya ini CPUnya. Tolong agak cepat ya, mbak …saya perlu banget buat sore ini”.

Aku langsung aja nyerocos begitu ingat tumpukan job yang harus kukerjakan.

 

Innallaha ma’ash shaabiriin….”. sambil berkata, sejumput senyum menyembul dari bibirnya yang mungil.

Innallaha ma’ash shaabiriin ?!  Hei ! Azil sering ngucapin kata itu, terutama kalo aku menyuruhnya gerak cepat. 

Apa sih artinya ? Uh nyesel aku ngga’ nanya ke Azil dulu !

 

Ok…, can I wait,  please  ?”

“ Sure,  Sit down please “. Dia menunjuk kursi didepan mejanya.

 

          Setelah sibuk nyambung kabel sana -sini,  Imut mulai action. Jemarinya yang putih bersih sibuk mengetuk – ngetuk keypad computer. Beberapa kali aku terjebak dalam kebeningan face nya. Cuantik buanget, tapi sekali lagi sayang, ….dia ‘ndut !!….

Sesekali Imut menyeritkan keningnya, matanya yang belo’ nampak lebih besar memelototi PC di depannya.

Kemudian ia terkekeh sendiri.

So…, what’s problem ? “.

Aku nanya, penasaran. Sekilas dia menatapku sambil menggelengkan kepalanya.

Eh, senyum lagi…..mmmhhhmmm….maniesssnya…..

 

“ You…why you laugh me ?!”

“ Sorry, nothing ! basically….no problem with this …..what you must to do is just delete some of your files.

It’s overload, not enough memory “.

“ My files ? what files ?”.

let’s me see….there to many JPG file ! but, the small problem only ”, katanya sambil tetap tersenyum.

 

Aku memincingkan mataku, ngga mengerti file mana yang dimaksudnya.

 

“ All right, sit down here and please  pilih file mana yang benar-benar anda perlukan,

sisanya  tinggal anda block  …..lalu klik delete “.

Imut menyilahkan aku duduk di kursinya. Menjelaskan apa yang harus kulakukan kemudian permisi menjawab telpon di meja sebelah yang dari tadi berdering.

 

Oh God !” ngga sadar aku memekik”. Ngga’ perduli tatapan beberapa orang di seberangku. 

 

Mataku nanar menembus monitor didepanku. Ratusan file simpananku, yang ku download dari internet berbaris manis disana.

 

Gadis jelita kamar 1,Jpg

Asia Hot, Jpg

Hot-Room2, Jpg

Putih mulus, Jpg

Big, Jpg

Semampai, Jpg

Rambut panjang, Jpg

….dst….dst…..dst…….

Akh !!! , aku malu…malu sekali……

          Tiba – tiba saja aku ingat Allah !, ingat shalat yang selalu kutinggalkan ! ingat hamburan maksiatku! ….., ingat Hidayah !

Lalu….., kurasakan dadaku bergemuruh !

 

 

……………………………….

 

 

 

 

 

Tiga tahun kemudian.

 

Bi….abi….lho…Abi ngelamun yah ?” Bocah lelaki  berumur empat setengah tahun itu menepuk pahaku, Rio juniorku. 

Astagfirullahal ‘adziimm, cepat aku ber istighfar.

“ kita jadi pelgi kan, bi ?”   

Ah ! aku baru ingat, kami berniat silahturahmi ke rumah Akhi Azil hari ini, istrinya telah melahirkan putra ke duanya kemarin.

“ Iya, iya, sayang…ummi mana ?”

“ Tuh, lagi nyiapin kado”.

Ku tatap punggung wanita yang menghadap meja kerja, membelakangiku.

Dia berkerudung panjang dan …..’ndut !.

 

 

Epilog :

 

          Subhanallah…jalanku berubah sejak kejadian itu. Ketakjuban orang lain,  tidak mengalahkan ketakjuban hatiku sendiri. Maha Suci Allah yang telah memberiku sesuatu yang paling mahal dan berharga, Hidayah!  Setahun kemudian akhi Azil menikah. Tahun berikutnya aku mengikut langkahnya. Dan wanita yang sekarang menggenapkan dien ku, Muthmainnah Aisyah !. 

Au revoir ! Untuk masa laluku yang penuh maksiat. Betapa hikmah yang telah Allah berikan kepada hamba-hamba yang diinginkan-Nya. Dan Alhamdulillah…aku termasuk didalamnya !.

 

..........................................

 

“ …….Sesungguhnya Allah akan memberikan Hidayah hanya kepada orang-orang tertentu, yang diinginkanNya….”.

 

>>>>>>>>> <<<<<<<<<<<

 

 

 

Oui,  bonjour! = Selamat pagi

Je vais tres bien, merci !  = kabar saya baik, terima kasih

Je m’appele  Muthmaninnah….= Nama saya Muthmainnah

 Est-ce je puis vous servir ? = ada yang bisa saya bantu ?

Au revoir !  = Selamat tinggal !

 

 

         


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.