YunnyTouresiaYurdhiansyah

Yunny's posts with tag: kota tercinta

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag kota tercinta
Blog EntryN14 KMRN [Menggapai Rezeki] Jul 27, '08 8:52 PM
for everyone

Tengah hari Jum’at yang terik. Mobil yang saya kendarai merayap pelan membelah jalan menuju rumah. Karena setiap hari Jum’at waktu istirahatnya lumayan panjang,  saya memilih makan siang dirumah bersama anak-anak, bukan di kantor seperti biasanya.

Arus lalu lintas menjelang waktu sholat Jum’at memang kerapkali padat. Banyak mobil dan motor, termasuk bus karyawan yang hilir mudik. Mengangkut sosok-sosok penuh kerinduan, demi memenuhi panggilanNya yang indah.

Ketika harus berhenti di pertigaan lampu merah. Mata saya tak sengaja menangkap sesosok tubuh ringkih berjilbab coklat yang sedang menarik gerobak besar melalui sisi kiri mobil. Gerobak khas pemulung yang penuh berisi barang-barang bekas. Ada sepeda kecil, drum bekas dan beberapa dirijen plastik bekas minyak goreng lima literan terikat di samping kiri dan kanannya. 

 

Saking penuhnya, bila kita melihat dari belakang, sepertinya gerobak itu berjalan sendiri. Gerobak bertuliskan N14 KMRN yang di toreh secara sembarangan dengan cat warna putih itu, bergerak perlahan, namun pasti. Hati saya langsung merintih melihatnya.

 

Melihat pemulung dan gerobak seperti itu, adalah hal yang biasa di Sengata. Namun sepanjang pengamatan saya, belakangan jumlah mereka semakin banyak jumlahnya. Kebanyakan dari gerobak mereka tertulis huruf dan angka-angka. Yang menurut seorang teman saya, huruf dan angka tersebut menunjukkan register markas asal mereka.  Misalnya dari Gang A, atau wilayah B. Belakangan di Sengata jumlah pemulung nampaknya memang semakin menjamur. Setiap hari dapat dengan mudah kita menemukan mereka berseliweran di ruas-ruas jalannya.  Walaupun saya beberapa kali melihat dan membaca di media, di kota-kota besar banyak juga wanita yang melakoni profesi tersebut. Namun untuk di kota kecil Sengata, hal tersebut adalah hal yang masih asing dan janggal. Baru kali ini saya melihat ada pemulung wanita di sini.

 

Lampu hijau telah menyala. Perlahan mobil kembali merayap. Pelan. Sangat pelan, lalu berhenti samasekali. Hanya rentet klakson mobil – mobil yang nyaring melengking. Truk besar di depan saya mengeluarkan bunyi gas yang menggema, knalpotnya yang besar menghamburkan asap hitam pekat ke udara. Bunyi klakson semakin ramai, bahkan beberapa teriakan nyaring terdengar. “ Hoi, maju…, majuu..”. Sinar terik yang membakar udara terasa semakin panas. Suasana yang kerapkali membuat kata sabar sulit sekali di jangkau. Padahal macet seperti ini, sangat jarang terjadi. Saya tidak bisa membayangkan, seandainya Sengata mengalami yang namanya macet seperti Jakarta. Duh, bisa-bisa setiap macet, ada perkelahian yang terjadi.

 

Alhamdulillah, akhirnya arus jalan kembali lancar. Namun saya terpaksa harus kembali berhenti karena lampu hijau sudah kembali merah, bahkan ketika saya belum sempat melampaui pertigaan tersebut. Tapi kini mobil saya sudah berada paling depan. Tepat di depan zebra cross. Jadi, setelah lampu hijau lagi, saya bisa langsung tancap gas.

 

Tiba-tiba darah saya seperti tersingkap melihat apa yang terpampang di depan mata saya! Sesosok tubuh ringkih berjilbab coklat yang tadi saya lihat, sedang sibuk memunguti barang-barang bekas yang berhamburan di sekeliling gerobaknya yang miring hampir terbalik. Sesekali ia berlari ke sebelah kiri, lalu berlari kecil ke sebelah kanan. Sibuk dan panik nampaknya. Rupanya inilah yang membuat kemacetan kecil tadi. Saya cepat beristighfar, Astaghfirullah…, saya sungguh menyesalkan tindakan para sopir yang tidak sabaran tadi. Pastilah suara klakson dan teriakan membuat ibu itu semakin panik. Apakah mereka tidak tahu kalau yang mereka hadapi adalah seorang wanita? Entahlah …

 

Klakson dari mobil di belakang saya, mengingatkan saya untuk bersegera melaju. Lampu telah kembali hijau. Arus lalu lintas di pertigaan yang padat, tidak memungkinkan saya untuk sekedar menoleh kepada si ibu, apalagi untuk stop dan menghampiri beliau. Namun dari kaca spion samping, saya masih bisa melihat      sosoknya yang terlihat masih sibuk dengan gerobak hijaunya.

 

Banyak dari kita, yang menganggap wanita sebagai makhluk lemah tak bertenaga. Namun hari ini, mata ini telah menjadi saksi, bahwa sosok lembut wanita, ternyata juga dapat bergulat dengan pekerjaan keras yang mengandalkan otot dan kekuatan dalam menjalaninya. Yang pastinya, untuk ibu itu, kehidupan yang dijalaninya setiap hari pasti jauh lebih berat dari sekedar gerobak besar yang sedang ditariknya.

 

Dengan pekerjaan yang jauh lebih ringan dan nyaman untuk saya menjalaninya, kadang hati masih saja berteriak bosan. Lalu, bagaimanakah dengan saudara di sekeliling yang tidak punya pilihan dalam menggapai rezekiNya? Ibu pemulung itu contohnya? Ya Allah, semoga saya terhindar dari sikap tidak tahu berterima kasih…

 

Udara semakin terik. Panggilan untuk bersegera sholat sudah terdengar. Lantunan kalimatNya yang selalu dapat menggetarkan jiwa. Saya sudah melaju membelah jalan menuju ke rumah. Meninggalkan sosok ringkih ibu berjilbab coklat yang masih sibuk dengan gerobaknya. Membawa segores pedih dalam hati.

 

* Untuk seorang ibu yang begitu perkasa. Semoga Allah SWT menggantikan setiap tetes keringatmu dengan banyak kelapangan. Sungguh, airmata yang menitik ini, bukan karena iba….


Blog EntryKeimanan yang TerbakarJun 30, '08 7:48 PM
for everyone

Beberapa hari yang lalu Sengata di kejutkan oleh amukan si jago merah di sekitar wilayah Rudina. Bangunan yang terbakar kebanyakan dari kayu, hingga bagai menjadi bahan yang sempurna untuk si api berkobar lebih besar dan leluasa.

Masyarakat di sekitar tampak cepat bereaksi. Bahu membahu membantu memadamkan api, menyirami dengan air dari tandon-tandon panampungan yang mereka miliki, mengangkuti barang-barang yang masih dapat diselamatkan ataupun sekedar mengamankan lokasi. Mobil pemadam juga datang membantu di saat yang tepat, sehingga banyak pula rumah yang berhasil diselamatkan.Alhamdulillah.

Si jago merah memang tak pernah pilih-pilih korban bila sudah mengamuk. Ia bisa melalap sederet rumah hingga rata dengan tanah. Tak menyisakan walau tiang kecil sekalipun! Dengan tenggang waktu tak sampai dua jam, banyak orang yang harus kehilangan harta dan bendanya. Hanya keikhlasan yang harus dihamparkan dalam hati setiap yang menjadi korban. Semoga Allah SWT menggantikan semua derita mereka dengan kelapangan yang lebih banyak lagi. Amiin.

Saya teringat ketika terjadi kebakaran besar di sepanjang sungai Karang Mumus di Samarinda beberapa tahun silam. Kebakaran terjadi hampir satu hari lamanya. Api yang sangat besar kobarannya bahkan menyeberang sungai, hingga banyak sekali menelan kerugian. Beberapa kerabat saya juga menjadi korban. Menyisakan pilu dan sedikit trauma di hati mereka. Namun yang lebih menyedihkan, selain rumahnya habis terbakar, sebagian barang-barang yang berhasil diselamatkan justru di jarah pencuri.

 

Motif yang dilakukan adalah dengan pura pura membantu. Kerabat saya bercerita tentang seorang lelaki yang berhasil di bekuk karena tertangkap basah mencuri. Tak tanggung-tanggung, ia dan beberapa kawannya sengaja membawa mobil pick up untuk mengangkut harta jarahannya tersebut. Kecurigaan berawal ketika seorang bapak yang memang ikhlas membantu, mendapati seorang nenek yang mereka tolak buntelan bajunya. Kelompok tersebut lebih memilih mengangkat TV, Kulkas, Tape dan alat elektronik lainnya.

 

Pencuri tersebut, harus ikhlas dengan hadiah bogem mentah dari warga yang terlanjur emosi. Ia mengakui, awalnya ia dan teman-temannya murni hanya ingin menolong. Namun demi melihat banyaknya barang-barang berharga yang tergeletak begitu saja di pinggir-pinggir jalan, di tambah tidak ada pengawasnya karena masing-masing sibuk menyelamatkan diri, mereka jadi berubah pikiran.

Kejadian seperti itu ternyata terjadi pula di Sengata. Beberapa rumah dan toko yang menjadi korban kebakaran juga banyak yang hilang barang-barangnya karena di jarah. Hanya saja tidak ada yang berhasil tertangkap pada kejadian itu. Boleh jadi, para pelaku tersebut juga ‘tidak berniat mencuri’ pada awalnya.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Kiranya memang tepat mewakili kesedihan para korban kebakaran. Bagaimana tidak, di tengah kepanikan, di antara gegap gempita suasana penuh ketakutan yang tercipta di antara mereka, ternyata masih ada segelintir orang yang malah bermain api. Sengaja mencari kesempatan di dalam kesempitan. Astaghfirullah…,

Setiap kita pastilah pernah mengalami keadaan sulit. Tertimpa musibah seperti apapun bentuknya. Pertolongan dari atau untuk kita dari orang-orang sekitar, sahabat dan tetangga atau bahkan orang lain yang tidak kita kenal, bagai oase di tengah gurun gersang. Allah SWT sungguh Maha Mengetahui dan tidak akan melewatkan kebaikan yang kita lakukan barang satu episodepun tanpa balasan. Seperti yang termaktub dalam hadist Rasululloh:

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: ‘Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya’. (HR Muslim)

Namun setan memang tak akan pernah ikhlas, melihat niat lurus yang kita bentangkan. Ia akan berusaha dengan segala cara, agar kita tergelincir menuju jalan kemungkaran. Seperti yang ‘bang napi’ sering ucapkan; bahwa kejahatan dapat terjadi bukan hanya karena ada niat, tetapi juga karena ada kesempatan. Kesempatan yang didalamnya penuh dengan tipu daya setan. Semoga Allah SWT berkenan memelihara titik – titik keimanan dalam setiap hati kita. Amiin.
Wallahu’alam bisshowab.


Blog EntryTernyata sama saja …Apr 16, '08 8:26 PM
for everyone

Menggunakan gas elpiji di rumah tangga adalah hal yang sudah sangat lumrah di masyarakat kita. Tak berbeda dengan saya, yang hidup di Sengata. Saya memilih elpiji karena selain lebih efisien dalam membantu proses masak-memasak, juga lebih mudah dan bersih dalam penggunaannya.

 

 

Kabar yang paling gress saat ini adalah hilangnya gas elpiji dari peredaran. Pertama kali saya dengar dari seorang teman yang kebetulan juga pengguna elpiji. Menurutnya, ia masih beruntung karena dari lebih sepuluh toko yang dia datangi, ada satu toko yang masih punya stock. “Walaupun harganya menjadi hampir dua kali lipatnya tak masalah. Yang penting istri di rumah bisa masak, gak peduli deh harganya ”. Ujar teman saya itu.

 

Jujur saja, saya tidak terlalu menanggapi serius ketika teman saya bercerita tentang perjuangannya tersebut. Teringat dua tabung gas di rumah. Yang satu masih full karena baru dibeli seminggu yang lalu. Gas kosong memang sudah beberapa kali terjadi di Sengata. Biasanya dengan dua tabung, Alhamdulillah, saya aman. “ Paling-paling, nanti pas habis gas sudah normal lagi seperti biasanya”. Perkiraan saya waktu itu.

 

Hari telah berganti minggu. Dua putarannya sudah terlewati. Khadimat sudah memberi warning pada saya, kalau jarum petunjuk di tabung gas sudah stop di area empty. Biasanya tak lebih dari dua hari, kompor tak dapat lagi mengeluarkan api.  Saya langsung menghubungi agen gas tempat kami biasa memesan. Kosong. Tapi mereka bersedia menuliskan nama saya untuk booking gas. Karena menurut mereka setiap agen nantinya hanya akan dibatasi lima tabung stock saja.  Wah, pasti kedengarannya keren banget, mau beli elpiji saja pakai acara booking, sudah seperti beli tiket pesawat saja.

 

Percaya atau tidak, itu terjadi saat ini. Bagaimanapun, saya tetap memerlukan elpiji. Karena walaupun nama sudah tercatat di bookingan, tapi waktu datangnya tetap tidak bisa dipastikan. Saya lalu mencoba beberapa toko lainnya, juga toko-toko penjual elpiji referensi dari beberapa orang teman. Hasilnya tetap tak berbuah. Cukup membuat panik, apalagi saya tak punya kompor minyak tanah di rumah. Jadilah sore kemaren, saya menyisir toko demi toko untuk berburu gas elpiji. Hasilnya? Nihil! Tak setabung elpijipun berhasil saya dapatkan.

“Kosong, bu!”. Begitulah rata-rata jawaban penjual yang saya tanyakan tentang keberadaan tabung biru tersebut. Anehnya, walaupun stocknya kosong. Rata-rata penjual sudah mematok harga seratus ribu rupiah per tabung dari sebelumnya yang hanya enam puluh delapan ribu rupiah per kemasan 12kg.

 

Hari ini, peralatan listrik yang semula tidak kami pakai, terpaksa dikeluarkan. Menjadi tumpuan hingga elpiji muncul lagi. Gensetpun harus dihidupkan siang hari. Maklum, walau di tengah kota, jaringan listrik belum menyapa sampai di rumah kami. “Duh, complicated banget nih, penderitaan”. Guman saya pada suami. Beliau tersenyum. “Sabar ya”. Ujarnya jenaka. Lumayan, dapat mencipta senyuman di bibir saya yang tadinya manyun ;)

 

Pemakaian gas dirumah saya termasuk cepat. Selain ada bayi yang urusan susu dan botolnya termasuk air hangat untuk mandi yang sangat memerlukan elpiji, usaha catering kecil-kecilan dirumah yang baru kami release juga mengharuskan kompor lebih sering di gunakan.

 

Padahal 60km dari Sengata, ada Bontang yang terkenal dengan kota gas, dan  ngembar-gembor masalah pengalihan minyak tanah ke elpiji oleh pemerintah masih sangat hangat kabarnya. Mengapa malah sekarang stocknya jadi menghilang, ya? Duh, elpiji!  Apakah ada pihak-pihak yang sengaja menumpukmu demi menaikkan harga seperti yang santer terdengar di berita? ataukah supplier lagi ogah datang karena jalan ke Sengata memang sedang rusak parah?

Entahlah…., tak baik bersu’uzon. Yang pasti, beberapa hari kedepan akan menjadi ‘hari libur memasak dirumah’ bagi kami sekeluarga.

 

Teringat dengan saudara-saudara yang sampai saat ini masih harus berburu dan  mengantri minyak tanah. Ternyata, mendapatkan minyak tanah ataupun elpiji, sama susahnya …

 

  

 

* Ya Alloh, negeri kami memang sedang banyak cobaannya. Semakin hari, semakin banyak kesusahan yang menghimpit golongan yang bernama rakyat. Semoga kami termasuk orang – orang sabar yang pintar mengambil pelajaran dari semua ujian. Amiin…


Blog EntrySatu pelajaran lagi!Mar 26, '08 2:43 AM
for everyone

Bau khas yang menusuk langsung menyeruak rongga pernafasan saya, mengharuskan langkah kaki bergegas meletakkan kantong plastik berisi sampah yang menggantung di tangan. Tiba-tiba ada seorang bapak pemulung muncul dari balik gerobak sampah yang di parkir tak jauh dari bak sampah di depan saya. Persis ketika saya akan membungkuk meletakkan bawaan.

 

“Alhamdulillah…, sampah lagi. Mari bu, sini, sampahnya buat saya”.

 

Bapak itu serta merta menangkap plastik di tangan saya. Senyum lebarnya tercipta demi melihat kantong tersebut telah berpindah ke dalam genggamnya. Saya sendiri hanya bisa tersenyum kecut. Beberapa detik saya hanya mematung. Bukan karena kemunculan bapak tadi yang memang mengagetkan saya. Tetapi kata-kata yang beliau dilontarkan. Dapat sampah, bersyukur ? Subhanalloh

 

          Sekilas saya lihat penampilan si bapak pemulung. Celana belel dan kaos oblong berlambang salah satu partai peserta pemilu yang sudah pudar warnanya membalut tubuhnya yang ringkih. Kerutan sudah mulai banyak di wajahnya. Gerobak yang dimilikinyapun berpenampilan senada. Seng bekas yang sudah penuh karat menjadi dindingnya. Kumuh!

 

Saya bergegas melanjutkan perjalanan ke tempat kerja. Kejadian tadi masih membayang. Duh bapak! nampak berat beban yang harus ditanggungnya. Di usianya yang sudah menua, masih bekerja seberat itu. Berangkat dari rumah dengan menyeret gerobak kumuhnya, mengais rezeki dari sisa-sisa orang lain, demi rupiah yang setiap hari tak pernah pasti jumlahnya.

 

Membayangkan diri sendiri. Berangkat dari rumah dengan kendaraan yang tak perlu banyak tenaga untuk membawanya. Menuju kantor dengan pekerjaan tetap yang rupiahnya dapat jelas tergambar.

 

Sungguh kontras dengan saya! Bila si bapak pemulung dengan beban beratnya tadi masih dapat mengucap syukur atas sampah yang didapatnya. Saya, yang hanya ‘harus’ membuang sampah dua hari sekali terkadang menyambutnya dengan kesal hati. Padahal yang harus saya lakukan hanyalah meletakkan kantong-kantong sampah itu ke tempatnya lalu pergi. That’s all. 

 

Saya langsung beristighfar. Mengingat saya yang kadang berkerut-kerut hanya karena urusan tersebut.

“Males nih, bawa sampah pagi-pagi. Ntar sore aja, pulang kerja”. Begitu kilah saya biasanya kalau si kaka (khadimat kami) menginfo-kan kalau sampah sudah menumpuk dan harus segera dibuang.

 

          Yang saya alami pagi ini, sungguh sebuah tamparan paling keras bagi saya yang terkadang masih saja mengeluh hanya karena urusan yang sebenarnya terlampau kecil. Sekedar membayangkan, seandainya saja yang berada di posisi bapak pemulung tadi adalah diri saya, tak tahulah apa yang akan saya lakukan. Apakah saya masih bisa mencipta sebuah senyuman? Wallahu’alam.

 

Alhamdulillah! Terima kasih ya Alloh, telah Engkau pertemukan hamba dengan seseorang yang membuat hati ini lebih menunduk syukur atas kelapanganMu. Di relung terdalam terikat janji, untuk tidak gampang mengeluh. Satu pelajaran telah saya dapatkan lagi. Semoga takkan ada lagi keluhan. Insya Alloh!

 

 

 

* Untuk seorang bapak yang saya temui pagi ini. Terima kasih banyak ya, pak! Semoga selalu ada kelapangan menyertai harimu …


Blog EntryNenek Penjual Nasi Kuning dan Wakil RakyatMar 13, '08 11:26 PM
for everyone

Wajahnya yang sudah penuh kerutan, tersenyum lebar menyambut langkah kaki saya yang mendekatinya. Deretan gigi yang sudah menghitam tampak menyembul ketika menjawab salam saya. “ Wa’Alaikum salam…”, ujar beliau lantang. Sejenak kemudian dengan sigap tangannya bergerak membungkusi nasi kuning sesuai pesanan. Pagi ini saya memang membeli cukup banyak nasi kuning, ada acara kecil di kantor.  Kalimat syukur beliau lantunkan demi mendengar jumlah yang saya pesan. “ Alhamdulillah, pagi-pagi, rezeki dari Allah” ujarnya sumringah.

 

Nasi kuning. Makanan khas sarapan pagi yang sangat terkenal di Sengata.   Di masak dengan santan dan diberi warna kuning dari kunyit. Agar lebih wangi dan menggugah selera, ketika di tanak, diberi beberapa helai daun pandan. Lauk yang paling cocok menemani nasi kuning biasanya ikan gabus, ayam, daging ataupun telor ayam rebus yang dimasak bumbu bali dengan warna merah cabai yang mengoda. Di sajikan dengan taburan bawang goreng dan serondeng ( kelapa parut yang diberi bumbu seperti urap ). Mmmhh….sungguh lezat rasanya. Saya sendiri termasuk penggemar nasi kuning. Hingga tahu persis dimana saja warung nasi kuning yang enak. Ada di Sengata lama, juga ada di daerah teluk lingga. Kali ini saya mampir, di langganan saya, di daerah teluk lingga.

 

Saya sudah kenal sekali dengan nenek penjualnya. Biasanya kami akan bercerita tentang berbagai hal. Tentang pekerjaan, tentang bunga, sampai tentang harga bahan pokok di pasaran. Kebanyakan beliau yang memulai percakapan. Seperti sekarang.

 

“ Maaf ya, ini potongan ayamnya agak kecil. Harga ayam naik betul. Sampai bingung aku nih mo jual”. Ujar si nenek sambil menaruh potongan ayam di atas nasi yang mengepul.

“ Belum lagi harga minyak goreng. Masa seliter sudah limabelas ribu ”.

Ujar beliau lagi. Saya mangut-mangut, mengiyakan. Yah, memang begitulah keadaannya sekarang …

 

“ Tuh, si Darto, tukang sate yang biasa mangkal kalo malam di depan       apotik A ngeluh juga. Kata istrinya pusing mau jual berapa lagi setusuk. Ada aja harga yang naik setiap harinya. Si Ani jua, yang jual gorengan di sebelah warung itu bilang, kalo bisa minyak goreng di ganti air, alangkah senangnya ”. 

Senyum saya mengembang mendengar ucapannya. Logra Banjar nampak kental menghiasi setiap kalimat yang beliau keluarkan.

 “ Coba wakil rakyat kita di sini, yah, bisa nurunin harga. Wakil rakyat kan kerjanya mbantu rakyat yang kesusahan. Termasuk pedagang kecil, kaya nenek ini “.

Tangan beliau berhenti membungkus. Di hitungnya deretan nasi kuning yang berjejer. Sudah lima bungkus, berarti tinggal lima bungkus lagi untuk pesanan saya. Kemudian beliau melanjutkan kalimatnya.

“ Ih, coba nenek ya, jadi wakil rakyat itu, yang nomor satu pasti harga sembako murah semuanya…”

“ Jangan lupa untuk pasang listrik juga ya nek…” ujarku. Teringat rumahku yang hanya mengandalkan genset sebagai penerangan karena aliran listrik belum ada.

“ Iya, pasang listrik juga. Di rumahmu di jalan Pendidikan, belum ada listriknya kan? Air PDAM juga nanti di pasang. Biar kita enak kaya orang di perumahan (maksudnya di komplek perusahaan yang airnya terkenal sangat bagus dan lancar), jadi kita gak usah ngobatin air sumur lagi. Pokoknya untuk masyarakat, Insya Allah beres. Nenek juga akan bantu tukang nasi kuning, tukang sate, tukang gorengan, pokoknya semua pedagang kecil. Nenek kasih mitsubisi biar harga murah, jadi mereka bisa tetap jualan”. Ujar beliau mantap. Persis seperti para politikus yang sedang berorasi. Ada binar –binar harapan terpancar jelas di matanya yang sudah mulai memutih warnanya. 

“ Maksud nenek subsidi, kan? Artinya dana bantuan dari pemerintah, sehingga harga yang sampai ke rakyat bisa lebih murah harganya. Kalau Mitsubishi itu merk mobil, nek “.  Ucap saya sekedar membenarkan. Lucu juga mendengar beliau salah menyebut kata itu. 

“ Oh iya, maksudnya itu. Maklum sudah tua, pendengaran nenek waktu nonton di TV ya, mitsubisi”. Ujar beliau tersipu. 

“Tapi nanti kalo sudah jadi wakil rakyat, jangan lupa sama janjinya ya, nek…” saya menggoda beliau.

“ Insya Alloh. Nenek kan sudah banyak merasakan sulitnya kehidupan rakyat kecil”

“ Alhamdulillah, Amiiin….” Saya mengamini harapan beliau.

“ Tapi…….”. Tiba-tiba nenek berhenti berucap. Tangannya menghitung jumlah nasi kuning pesanan saya sudah lengkap jumlahnya. Sambil tangannya meraih plastik putih untuk menampung bungkusan nasi kuning, beliau berujar lagi.

“ Tapi sayang di sayang ….., nenek cuma pedagang nasi kuning…”

kali ini sambil terkekeh. Kerutan di wajahnya bergerak-gerak. Saya juga tak mampu menahan senyum.

          “ Gayanya nenek itu, kaya orang ngerti politik aja…”

          “ Iya dong. Kaya orang politik. Yang ngomong-ngomong kalo mau pemilu itu loh. Nanti kalo sudah terpilih, diam deh…”. Senyum masih ada di bibirnya. 

 

Saya termangu. Rupanya itulah batas wakil rakyat dan politik di mata beliau. Sederhana sekali. Beliau juga seolah sudah makhfum sekali dengan kondisi yang terjadi. 

Nasi kuning pesanan saya sudah siap, tersusun rapi dalam kantong plastik di hadapan saya. Kalimat syukur kembali terlontar dari beliau, ketika lembaran rupiah sudah berpindah ketangannya. Menurut beliau, walaupun keadaan serba sulit sekarang, kita harus banyak bersabar, dan jangan sampai lupa bersyukur. Karena mengeluh juga tak mengubah keadaan.

 

 Alhamdulillah, biarpun untungnya kecil, masih bisa jualan. Masih bisa bantu-bantu keluarga. Maaf ya, nenek tadi cuma curhat, daripada di pendam, bikin sakit hati ”.

Begitulah kalimat terakhir yang saya dengar tadi darinya. Kalimat yang sarat dengan optimisme dan keikhlasan.

 

Saya sudah jauh meninggalkan beliau menuju ke arah kantor ketika percakapan kami tadi kembali berputar di kepala saya. Membuat senyum kembali tercipta. Dari ucapannya, saya menangkap bahasa halus khas rakyat yang meminta konsistensi ucapan yang dilontarkan para wakil rakyat sebelum duduk di kursinya dengan tindakan riil yang dapat di rasakan oleh rakyat kecil, seperti beliau.  Para wakil rakyat yang beliau pilih namanya setiap lima tahun pemilihan, pun ketika beliau tidak tahu persis siapa mereka.

         

Duhai nenek! ternyata begitulah nasib pedagang kecil. Mungkin benar, banyak juga yang bernasib sepertimu. Terseok merayap di tengah deru harga-harga yang  melonjak naik. Yang berusaha tetap tegar menggapai rezekiNya. Saya salut padamu, nek! Karena begitu banyak kalimat syukur yang dapat kau cipta diatas himpitan yang kau rasakan. Engkau masih bersabar walau di tengah kepayahan.

 

Kita memang dapat belajar dari siapa saja, tentang apa saja. Hari ini saya telah mendapatkan sebuah pelajaran lagi dari seorang nenek penjual nasi kuning.

 

 

* Moga tambah laris ya, nek! semoga harapan nenek juga di dengar oleh para wakil rakyat, nun jauh disana …

 

http://yunnytouresia.multiply.com

 

 


Blog EntryDan di Sengata juga… Mar 3, '08 9:46 PM
for everyone

Photo ini saya ambil ketika saya terjebak di antrian pom bensin, di suatu hari yang sangat terik di Sengata. Kebetulan ada camera digital, langsung saya ambil beberapa gambarnya. Lihatlah! betapa antrian panjang rakyat untuk mendapatkan minyak tanah ada dimana – mana. Dan di Sengata juga…

Artikel ini juga di posted di eramuslim.com tanggal 1 Maret 2008.

 

***

 

Hari Ahad yang sangat terik! Matahari benar-benar menajamkan sinarnya, membentuk beberapa fatamorgana di jalan beraspal yang saya lalui menuju pom bensin satu-satunya di kota Sengata. Bahkan ketika volume AC di kabin mobil sudah saya full-kan, tetap saja masih terasa gerah. Sebenarnya saya agak malas kalau harus keluar rumah di cuaca seperti ini. Namun karena jarum penunjuk bahan bakar di mobil Nissan saya sudah di garis akhir yang berwarna merah, dan sore ini harus menghadiri undangan seorang kerabat, akhirnya berangkatlah saya.

 

Seperti biasa, sangat sulit mendapatkan kesempatan untuk tidak mengantri sebelum mendapatkan bahan bakar. Sepertinya arus distribusi BBM belum sepenuhnya normal di sini. Sambil menunggu antrian, tak sengaja mata saya melihat kepada segerombolan orang yang berdiri, tepat di sebelah kanan pom bensin. Sepertinya mereka sedang menunggu sesuatu. Melihat hampir semua dari mereka menenteng dirigen kecil, barulah saya ngeh, ternyata mereka sedang mengantri minyak tanah.

 

Dari media cetak hingga elektronik, betapa sering saya menyaksikan, banyaknya antrian panjang manusia mengantri minyak tanah. Bahkan tak jarang, berujung dengan pertengkaran bahkan perkelahian. Mungkin di Sebabkan karena sama-sama tidak mau mengalah dan ingin cepat-cepat di layani. Apalagi badan yang sudah terlalu letih karena kelamaan menunggu di antrian. Pernah suatu kali saya menonton di TV, di Jakarta, ada yang mengantri minyak tanah dari subuh sampai sore. Itupun dalam jumlah yang dibatasi. Subhanallah…

 

Bagi yang mampu dan rezekinya luas, mungkin takkan pernah tahu, bagaimana sulitnya perjuangan untuk mendapatkan hanya beberapa liter minyak tanah. Karena mereka kebanyakan sudah memakai bahan bakar gas elpiji, yang tidak perlu repot menuang ke kompor dan peralatan tak berlepotan warna hitam. Tapi bagi yang kurang mampu, ya tidak ada pilihan selain harus mengantri. Kalau tak mau, bisa-bisa dapur tak mengepul.

 

Tingkat perekonomian di Sengata, boleh dibilang tinggi. Standar harga bahan pokok termasuk sayur dan ikan sudah mengikuti standar gaji ‘orang perusahaan’.  Yang artinya, m-a-h-a-l. Masyarakat menilai, gaji orang – orang perusahaan itu tinggi-tinggi. Maklum, Sengata terkenal dengan penghasil emas hitam terbesar di dunia, dan ada perusahaan besar bermarkas di sini. Tetapi bila dibandingkan antara pendapatan dengan pengeluaran yang juga ‘tinggi’, ya sama saja. Masuk ama keluarnya sama besarnya. Akan jauh bedanya bila dengan ‘gaji Sengata’ tapi tinggalnya di Yogya, misalnya. Ketika kami berkunjung ke Yogya, di sana dengan uang lima ribu rupiah saja, sudah bisa dapat nasi campur lengkap gudeg dan ayam dengan nasi porsi kuli (karena banyaknya). Sedangkan di Sengata, harga sebungkus nasi kuning standar sarapan pagi dengan lauk telor saja rata-rata sudah tujuh ribu rupiah. Mmm….begitulah…

 

Saya bergerak pelan meninggalkan pom bensin dengan tangki yang sudah terisi penuh. Sekilas saya lirik antrian di tempat orang-orang yang mengantri minyak tanah tadi. Bukannya berkurang, malah semakin panjang jalurnya. Padahal sinar matahari masih terik memanggang kepala. Ternyata, tak perlu menengok jauh-jauh di daerah lain, karena di Sengatapun orang-orang harus mengantri untuk mendapat minyak tanah. Seperti yang saya saksikan barusan. Dalam hati saya mengucap syukur padaNya, atas kelapangan untuk keluarga kami. Semoga untuk mereka yang mengantri, diberikanNya juga kemudahan dan kesabaran…Amiin.

 

 

Pendidikan, akhir Feb’08

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.